Thursday, 6 December 2018

Kolak Apem

Apem is made of white rice flour and yeast. Usually they are sweetened with sugar. But this is an unsweetened  version. They come in plain flavour. Served with sweetened coconut milk. Very comforting food. While others categorized it as dessert, I regard is as main dish.
Although looks so similar to serabi, this one is different from serabi. Serabi is slightly salty.

Manggis

Musim manggis tiba... Betapa banyak kenangan yang melekat pada manggis. Dulu, hanya ada satu pohon manggis di dekat rumah. Milik Mbah Modin. Pakliknya Bapak. Setiap kali manggis berbuah dan dipanen, Mbah Modin akan membaginya secara merata kepada semua anak cucunya. Termasuk cucu keponakan. Itulah satu-satunya saat kami dapat mencicipi manggis dalam satu tahun.
Ada lagi kenangan yang terbawa- bawa hingga kini. Ketika melihat manggis aku selalu ingat bacaan di buku yang dulu sering kubaca. Dulu kami begitu kurang bacaan. Sehingga kami membaca buku-buku lama, banyak di antaranya adalah buku bacaan sekolah yang dipakai pada jaman-jaman dahulu. Sebagian besar masih menggunakan ejaan lama. Di salah satu buku itu ada satu cerita, di sekolah Pak Guru meberikan semacam kuis ke murid-muridnya. Berhitung. Yang benar jawabannya akan mendapat hadiah. Hadiahnya itu adalah manggis. Begitu hadiahnya diterima, si murid tersebut segera ingin makan manggisnya itu. Ternyata tidak bisa dimakan. Itu manggis tiruan. Yang sebegitu bagus menirunya hingga persis seprti aslinya.




Tuesday, 27 November 2018

Ketupat

Ketupat ( in Indonesian) or kupat (in Javanese) is rice cooked inside a woven coconut leaf pouch. In Java, this food traditionally served in the seventh day after Eid. It is a symbol of seeking and giving forgiveness.

It is usually served with sayur, thus called ketupat sayur. Sayur itself is a kind of soup. The one made to accompany ketupat usually made from vegetables, such like potato, chayote, and bean sprout. Besides vegetables, usually some tofu also added. The soup is spiced with shallots, garlic, galangal, turmeric, candlenut, salam leaf, keffir lime leaf, red chilli pepper, and salt. Then boiled in coconut milk. In my place a complete dish of ketupat consists of ketupat, sayur, lepet (sticky rice mixed with grated coconut steamed inside a woven coconut leaf pouch or wrapped in a piece of banana leaf). Sometimes lontong (rice wrapped in a piece of banana leaf in cylindrical or cone shape) also added. The pouch for lepet has a different shape from ketupat pouch.

Weaving ketupat is an interesting activity. In the past, family members gathered and each of them took a part in this activity. The elder one taught the younger how to weave coconut leaf to make a ketupat pouch. I was taught by my father and my late uncle to weave. Nowadays, sadly, everybody seems too busy to retain this tradition. People have no much leisure time for such an activity, and life become artless day by day. Many choose to buy ketupat pouch sold in market, and consequently many youth have no skill of weaving ketupat pouch.

Thursday, 25 January 2018

Repost

Perempuan-perempuan

April 16th, 2008 

pagi itu cerah sekali
seolah kemarau telah tiba lama
sama sekali tak kentara kalau dua hari sebelumnya hujan turun dengan derasnya
abu turun, tapi tak sederas kemarin
jalan-jalan mulai mengering
tak lagi becek


kami berjalan bertiga beriringan
mengobrol ringan sepanjang jalan
jalanan ini, tanah lempung hitam dan padat
pasti dingin di kaki
tapi saya memakai sandal


beberapa kali kami berpapasan dengan orang-orang
yang sudah pulang
mereka memikul kayu atau pakan ternak
pasti mereka berangkat pagi-pagi sekali
sapa dan tawa bertukar-tukar
seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan

padahal ketika kami sampai di tepi sungai
yang air jernih dan sejuknya mengalir deras
itulah kekhawatiran


semua orang bergegas karena berlomba dengan sungai ini
ia bisa saja segera berubah perangai dari ramah dan menawarkan kesegaran
menjadi berwajah keruh membawa batu-batu, pasir, dan lumpur
dan tak segan menghanyutkan apa saja
batang kayu, tebing batu, atau orang lalu


tapi pagi itu ia begitu bening dan menyenangkan
jadi kami menyeberang dengan tenang


lalu jalanan mulai mendaki
kopi, kopi, kopi di kiri kanan
kalliandra dan gliricidia di sela dan di tepinya
tak banyak tanaman lain, atau pohon hutan yang tersisa
tidakkah ini juga kekhawatiran?


satu jam kami sampai di sepetak lahan dengan kopi yang masih muda
nafas tersengal keringat membanjiri punggung
dan haus


duduk di gubuk kami merasakan angin menciptakan rasa anyep di kulit kami
keringat membuat suhu tubuh lebih dingin
beberapa jambu biji merah yang masih mengkal berbalut abu
tapi rasanya benar-benar nikmat
maklum kehausan


segera setelah itu dua perempuan itu bergerak
mengayunkan sabitnya ke cabang-cabang kalliandra
bakal pakan kambing yang menunggu di kandangnya
tak lama semua telah terkumpul
tak perlu susah payah soal pakan ternak
tanah ini subur, siapa mau menanam akan memetik hasilnya
meski ada gamang, kalau-kalau perhutani datang kembali mengklaim lahan ini

lalu ketika matahari hampir sampai di atas kepala kami
kami pulang

mbak tukinah yang hamil tujuh bulan mambawa seikat kayu di atas kepalanya
mbak ngatirah dengan pakan kambing
saya hanya membawa tas berisi daun singkong

perjalanan pulang terasa lebih melelahkan
mbak ngatirah berjalan setengah berlari menuruni jalan sempit ini
mungkin hanya beban di atas kepalanya yang ada di pikirannya
adakah waktu untuk berhenti dan berpikir dalam hidup ini
bukankah kita memang berjalan terburu setengah berlari tanpa sempat berpikir lagi?


tapi mbak tukinah berjalan lebih pelan
entah apa yang dipikirkannya
mungkin suaminya yang bekerja di malaysia
atau anak dalam kandungannya
atau entah apa



mereka perempuan-perempuan yang bertahan dalam sulitnya hidup
tanpa bisa berbuat banyak
mereka hanya dua di antara yang sejenisnya
mungkin di barisan itu pula aku berdiri
dalam gaya dan pose yang lain….
Repost
Mengapa Matematika Penting?

Kita sering kali meragukan manfaat berbagai hal. Begitupun saya, dari dulu bertanya-tanya kenapa harus belajar matematika di sekolah. Pelajaran yang susah dan susah pula kurunut nalarnya, padahal matematika itu pure logic. Rasanya waktu sekolah dulu saya tidak pernah menikmati pelajaran matematika

Tapi sekarang saya tahu, setidaknya dari dua hal, bahwa matematika itu penting, yang akan saya ceritakan ini adalah hal pertama, bahkan dalam kisah ini matematika dapat menyelamatkan nyawa

Tersebutlah di sebuah turnamen bela diri dunia……….

Krullin, teman Goku, bertarung melawan Chaozu. Chaozu adalah murid Guru Bangau. Ia hebat. Sangat kuat. Kepalanya sekeras berlian, dan bisa melayang-layang di udara. Sedang Krullin yang merupakan murid Pertapa Kura-Kura, bukanlah murid yang menonjol. Ia tidak seperti Goku, yang sangat kuat dan dapat melakukan melebihi yang diajarkan gurunya.

Peraturan dalam pertarungan tersebut adalah pemenangnya adalah siapa yang lebih dulu dapat menjatuhkan lawannya keluar dari ring. ini sulit buat Krullin. Karena tiap kali Chaozu terdesak oleh serangannya, ia tidak jatuh, tapi melayang menjauh. Mengapung-apung di udara, Chaozu bahkan bisa berjalan di udara. Ia menghajar Krullin dari udara. Sementara Krullin lebih banyak menghindari serangan itu.

Tapi Chaozu biarpun hebat ternyata tidak tahu kiri dan kanan. Ketika Krullin melompat ke udara dan Chaozu bingung mencarinya, Guru Bangau berteriak, “di kirimu!” Chaozu bergumam, tangan kiri untuk memegang sumpit dan tangan  kanan untuk memegang mangkok, jadi yang mana kiri…..

Tapi meski tidak tahu kiri dan kanan Chaozu tetaplah lawan yang mengerikan. Ia memiliki jurus yang bernama gelombang dodon. Dari kedua tangannya memancar gelomabang kuat yang dihantamkannya bertubi-tubi pada Krullin. dalam keadaan sangat terdesak Krullin mencoba memakai kamehameha, jurus yang belum pernah dicobanya. hHsilnya tak sekuat yang dihasilkan Goku. Tapi efeknya pada Chaozu fatal karena Krullin menyerang saat Chaozu bingung mencarinya. Tapi lagi-lagi Chaozu tidak jatuh ia melayang jauuuh...

Dan ketika kembali gurunya memerintahkannya untuk segera membunuh Krullin, Karena ia baru mendengar berita bahwa Goku telah membunuh Tao Pie Pie, adiknya yang sangat hebat. Guru Bangau ingin membalas  dendam dengan membunuh semua murid Pertapa Kura-Kura

Hasrat membunuh Chaozu membuat Krullin memutar akal bagaimana mengalahkannya. ia mengamati bahwa Chaozu menyerang dengan menggunakan kedua tangannya. jadi kedua tangan itu harus disibukkan. Dalam kondisi kesakitan, Krullin berteriak pada Chaozu “berapa 9-6?”

Chaozu ternganga, ia lalu menghitung dengan jari-jarinya, tapi tidak segera menemukan jawabannya. “tiga” kata Krullin sambil menyerang. Chaozu lalu ganti bertanya,  “16+27?”, Krullin menjawab cepat “43″, sambil menyerang lagi. dan akhirnya ketika Chaozu masih kagum pada kecepatan Krullin menghitung, Krullin bertanya lagi “9-1?”……….. aaa ternyata Chaozu meski petarung hebat,  benar-benar tidak bisa berhitung. dan Krullin pun memukulnya hingga Chaozu keluar dari ring.


begitulah akhirnya, Krullin menang karena ia cerdik dan bisa berhitung. jadi siapa bilang matematika tidak bermanfaat?

Monday, 29 August 2016

Ranu Pani dan Ranu regulo


Jum’at, 15 April 2016, akhirnya berangkat juga ke Ranu Kumbolo. Obsesi sesungguhnya adalah Mahameru, tapi setelah bercermin tahu diri juga, jadi target diturunkan menjadi Ranu Kumbolo saja. Lagi pula persiapannya kurang, karena perginya mendadak. Inilah perjalanan itu….

Ranu Regulo (Photo : MCU)
Dari arah Senduro menuju ke Ranu Kumbolo kita harus menuju Ranu Pani terlebih dahulu. Melewati Desa Burno, kemudian kita akan melalui hutan produksi perhutani yang ditanami Damar. Jalannya menurut bapak yang menjual bensin di toko tempat kami mampir mengisi bensin sebelum berangkat 50%. Maksudnya 50% bagus dan sisanya rusak. Dalam bayanganku kalau pembagian 50-50 itu dibelah kiri dan kanan, maka tidak masalah. Tapi kalau dipotong jadi dua depan dan belakang maka agak repot. Ternyata dari Burno jalannya mulus, masih baru, lewat hutan Damar juga masih bagus, masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga masih bagus. Jadilah ada kesempatan untuk melihat kiri kanan. Kangmas Pohon, Mbakyu Pohon, Bapak Pohon, Ibu Pohon, Kakek Pohon, Nenek Pohon, Buyut Pohon Kakung dan Putri Berdiri di kiri kanan jalan. Lengan-lengannya mengembang lebar karena ukuran mereka yang begitu besar. Di tubuh mereka paku-pakuan, benalu, lumut, epifit, dan teman-temannya mondok. Mungkin burung atau kera atau angin yang mencarikan mereka induk semang itu. Tentunya mereka juga membiarkan hewan-hewan menumpang juga. Tak ada satupun yang dapat kukenali dari motor yang melaju. Yang tertangkap hanya hijau yang menyegarkan. Di bawah pohon-pohon itu semak dan terna lain tumbuh. Sepanjang tepi jalan banyak sekali Impatiens chonoceras yang berbunga ungu. Selain itu yang banyak sekali terlihat adalah pohon pisang, meski tidak ada yang berbuah. Dan meski ada papan peringatan dan pemberitahuan yang mengatakan bahwa kawasan itu adalah tempat hewan melintas sehingga kita manusia tidak boleh ribut-ribut, namun saya tidak menjumpai mereka. Tidak kijang, tidak kera, ada burung tapi di udara….

Kenikmatan melihat-lihat itu akhirnya terputus setelah jalan yang mulus itu berakhir. Selanjutnya adalah bekas jalan beraspal yang tinggal batunya sehingga mirip sungai yang airnya mengering. Di beberapa titik masih ada aspal yang tersisa, ada juga yang diganti dengan beton, namun putus-putus, entah apa sebab dan maksudnya. Di penghujungnya bahkan ada kolam-kolam besar di tengah jalan. Namun setelah melihat atap sebuah bangunan hilang semua sudah kekhawatiran akan jatuh. Sampailah kami di Ranu Pani, yang bukan hanya nama sebuah danau, namun juga nama desa itu sendiri. Salah satu desa tempat tinggal keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger. Yang pertama kami lihat adalah lahan-lahan pertanian yang ditanami sayuran, dengan kemiringan tidak masuk akal, seperti juga di daerah dekat Bromo. Jika melihat para petani itu bekerja aku membayangkan mereka harus dilem kakinya di permukaan tanah, jika tidak gravitasi akan menarik mereka sehingga mereka jatuh menggelinding ke bawah. Atau mereka harus berpegangan pada tali… meski senyatanya tidak begitu. Pada lereng-lereng yang tinggi pun ada tanamannya. Aku akan kehabisan nafas setelah berjalan menuju ladang dan tidak kuat bekerja setelahnya jika aku punya ladang di situ.

ladang sayuran (photo : nining)
Daerah yang dingin ini sejak dulu telah terkenal sebagai penghasil sayuran. Kentang, wortel, kubis, bawang putih, bawang daun, adalah hasil yang utama dari petani-petani Tengger. Saat kami berkunjung yang nampak paling banyak mengisi ladang-ladang miring itu adalah bawang daun, tidak banyak nampak tanaman lain. Mungkin ada hubungannya dengan musim.

Desa Ranu Pani di seberang danau (photo : Nining)
Dalam suasana mendung dan sedikit berkabut, tempat yang sunyi itu terasa tidak nyata, rasanya seperti masuk ke dalam gambar kalender. Ranu Pani berada pada ketinggian 2200 meter di atas permukaan laut. Suhu udara sudah terasa dingin, namun masih dapat ditolerir. Tanpa mengenakan jaket pun masih terasa nyaman. Saat kami sampai langit berawan, namun sinar matahari masih dapat menerobos ke bumi. Desanya berada di seberang danau yang sayangnya sudah kotor karena banyak sampah, dan nampaknya juga mengalami pendangkalan dan penyempitan. Namun, mau tidak mau aku masih tetap tercengang melihat pemandangan yang indah itu. Rumah-rumah nampak kecil-kecil di seberang danau, dengan ladang-ladang sayuran di latar belakangnya, lalu perbukitan dengan pepohonan membatasi tempat itu, memisahkannya dari dunia di luarnya.


Karena harus melaporkan diri jika mau naik maka kami mencari pos taman nasional. Kami sudah siap dengan surat keterangan sehat, fotocopy kartu identitas, juga materai untuk membuat surat pernyataan. Pos tersebut terletak tidak jauh dari danau. Seorang gadis yang ternyata adalah relawan di pos itu menemui kami, menjelaskan bahwa Ranu Kumbolo dan Mahameru ditutup! Ia lalu memanggil petugas lain yang lebih senior, seorang laki-laki, yang kemudian menjelaskan bahwa setiap tahunnya jalur pendakian ditutup selama tiga bulan, antara bulan Januari hingga April, untuk pemulihan kawasan konservasi. Catat noh…. Kemungkinan seminggu lagi sudah buka, selambat-lambatnya awal Mei. Patah semangat. Akhirnya kami duduk-duduk di teras pos, melihat kiri kanan, bertanya-tanya, membaca informasi yang ditempel-tempel, dan berfoto foto. Mereka lalu menyarankan kami melihat-lihat Ranu Regulo yang terletak sekitar 300 meter dari Ranu Pani. Informasinya bisa juga berkemah di Ranu Regulo. Apalagi Ranu Regulo jauh lebih bersih kondisinya jika dibanding Ranu Pani. Tapi kalau harus menginap aku memilih tidur di pendopo TNBTS yang luas dan bersih. Ada atapnya, hujan tidak akan mengganggu kami, toilet berjejer-jejer di dekat situ. tinggal masuk ke sleeping bag saja. Di samping pendopo ada edelweiss, sedang berbunga. Aku penasaran ingin tahu boleh tidak dipetik, teman-temanku bilang tidak boleh, tapi menurutku boleh, ini kan hasil budidaya…

Akhirnya kami pergi mengunjungi toko souvenir di depan pos. Bermacam-macam barang yang disediakan di situ. Perlengkapan hiking. Kaos yang ada petanya, sepatu gunung, sleeping bag, jaket, kaos tangan, kalau kita kelewatan membawa bisa membeli dulu. Stiker, gantungan kunci, dan pernik-pernik kecil juga ada, untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Kami mengobrol dengan pemilik toko. Sepasang suami istri yang asalnya dari Tumpang. Hanya satu toko itu yang buka, karena memang sepi. Namun petugas taman nasional bilang tadi juga ada rombongan yang bernasib seperti kami, semobil…

Sama dengan petugas taman nasional suami istri itu pun menyarankan kami untuk mengunjungi Ranu Regulo. Mereka berbaik hati menawarkan menitipkan barang bawaan di tokonya. Akhirnya kami pun berjalan turun tanpa direpotkan oleh ransel berat, lewat di sisi kanan Ranu Pani menuju Ranu Regulo. Ada jalan berpaving menuju ke Ranu Regulo. Di situ juga banyak bangunan, kemungkinan pondok-pondok untuk pendaki. Namun semua tutup. Dari banner-banner yang terpasang nampaknya banyak sekali kegiatan yang diadakan di tempat ini di hari-hari ketika jalur pendakian tidak ditutup.

Iresine herbstii, crocosmia, dan oxeye daisy (photo : nisa)
Verbena brasiliensis, calla lily, dan sejenis lobak (photo : nisa)
Sepanjang jalan yang pendek itu banyak sekali tumbuh-tumbuhan yang indah, yang jarang kami temui di tempat lain. Berwarna-warni. Sebagian berbunga. Tersebar di tepi-tepi danau dan di kiri kanan jalan, berbaur dengan semak-semak hijau yang segar. Seolah Tuhan sengaja membuat taman di sini. Tapi Mini bilang yang bikin pasti asisten Nya… akhirnya kami berdua tertinggal jauh di belakang karena sibuk melihat-lihat, mengamati, memotret dan juga memanen, karena banyak sekali ciplukan di pinggir jalan. Bukan jenis yang biasa ditemui sehari hari di ladang-ladang sekitar kami, yang ini batangnya lebih tinggi dan nampak lebih kekar, daunnya berbulu, berwarna agak keunguan, buahnya juga lebih besar. Sayangnya belum banyak yang matang. Di antara tumbuhan yang kami temui ada crocosmia, yang bunganya berwarna jingga, bersusun-susun dalam tangkai panjang yang ketika terayun karena angin nampak sangat anggun. Lalu Verbena brasiliensis, yang berbunga ungu. Bukan flora lokal, namun tumbuhan ini telah menginvasi wilayah sekitar Semeru sampai-sampai mengganggu tumbuhan setempat. Jadi meskipun warna ungunya begitu indah namun tumbuhan ini meresahkan juga. Pesatnya pertumbuhan Verbena brasiliensis dapat dilihat dari padang-padang di sekitar Semeru yang berwarna ungu tertutup tumbuhan ini. Yang berbunga putih adalah sejenis aster, oxeye daisy (Crysanthemum leucanthemun). Entah apa nama lokalnya. Yang bunganya kuning entah apa namanya, daunnya halus berjari, mirip daun tomat. Lalu ada pula yang kurasa itu adalah nenek moyang sawi yang kita makan sehari-hari. Di foto cuma nampak setengah bagian tumbuhan. Daunnya lebih tebal dari sawi pada umumnya. Namun di situ tidak ada yang bisa ditanyai apakah daunnya juga bisa dimasak. Sedang yang daunnya merah adalah anggota famili bayam-bayaman, Iresine herbstii. Bukan jenis yang dapat dimakan. Namun, konon daunnya dapat digunakan sebagai pewarna agar-agar. Di banyak tempat, utamanya yang berhawa sejuk, saya sering menemukan tumbuhan ini, juga jenis yang berdaun hijau, kuning, merah. Ditanam sebagai tanaman penghias taman. Hanya saja belum pernah melihat yang tumbuh sesubur dan sesegar ini. Sedang yang bunganya putih seperti anthurium adalah calla lily (Zantedeschia ethiopica), sesungguhnya ia juga masih sekeluarga dengan anthurium, sesama araceae. Ada lagi yang banyak sekali tumbuh, bunganya kecil dan halus berwarna ungu lembut (ada fotonya tapi tidak jelas). Berumbi putih keunguan, mirip lobak umbinya. Itu semua adalah tumbuhan-tumbuhan berbunga
yang banyak sekali terdapat di sana.

makaaan... (photo : MCU)
Jalan menuju Ranu Regulo datar, kita bisa menikmati perjalanan pendek itu tanpa terengah-engah. Ranu Regulo benar-benar lebih bersih dari Ranu Pani, tapi menurutku tidak ada camping ground di situ, yang ada adalah tanah berumput panjang yang tidak cocok untuk mendirikan tenda, lagi-lagi itu menurutku. Ada semacam dermaga di tepi danau, meski tidak ada perahunya, dari beton. Sepi, hanya ada sepasang muda-mudi berpacaran. Yang begitu kami datang langsung pergi meninggalkan tempat, karena dunia tidak lagi menjadi milik mereka berdua dengan adanya invasi kami. Akhirnya kamilah yang menguasai tempat yang nyaman itu. Di dermaga itu kita bisa duduk-duduk dengan nyaman sambil memandangi air danau di mana ikan-ikan kecil berenang di antara rumput-rumput air, sambil mendengarkan desau angin menerobos dedaunan. Suaranya keras sekali, gemerisik seperti hujan datang mendekat. Padahal itu suara angin. Di sekeliling danau banyak sekali pohon-pohon cemara, indah sekali, dan tenang. Jauh dari keriuhan dan bebas dari kebisingan. Sangat nyaman di situ. Kalau Sapardi yang datang pastilah ia sudah menceritakan air danau, angin, langit yang kelabu, pepohonan, dedaunan, bebungaan, kesunyian, dan ikan-ikan itu dalam puisi-puisi yang indah. Sedang kami, rombongan pendaki amatir, gagal pula, yang setengah kecewa ini hanya bisa ternganga-nganga melihat alam yang begitu luar biasa itu. Akhirnya, kami merasa lapar, meski belum begitu lama jaraknya dengan sarapan. Maka kami pun membuka bekal dan makan di situ. Begitulah kesudahan kunjungan kami yang diawali dengan semangat 10 November arek-arek Surabaya…
Sampai jumpa Ranu Pani… suatu saat kami akan kembali, bukan di bulan Januari – Mei, untuk sampai di Ranu Kumbolo seperti cita-cita yang sudah lama kami pancangkan….
alhamdulillah... senyum kami masih manis
 meski gagal pergi ke Ranu Kumbolo