Ketupat ( in Indonesian) or kupat (in Javanese) is rice cooked inside a woven coconut leaf pouch. In Java, this food traditionally served in the seventh day after Eid. It is a symbol of seeking and giving forgiveness.
It is usually served with sayur, thus called ketupat sayur. Sayur itself is a kind of soup. The one made to accompany ketupat usually made from vegetables, such like potato, chayote, and bean sprout. Besides vegetables, usually some tofu also added. The soup is spiced with shallots, garlic, galangal, turmeric, candlenut, salam leaf, keffir lime leaf, red chilli pepper, and salt. Then boiled in coconut milk. In my place a complete dish of ketupat consists of ketupat, sayur, lepet (sticky rice mixed with grated coconut steamed inside a woven coconut leaf pouch or wrapped in a piece of banana leaf). Sometimes lontong (rice wrapped in a piece of banana leaf in cylindrical or cone shape) also added. The pouch for lepet has a different shape from ketupat pouch.
Weaving ketupat is an interesting activity. In the past, family members gathered and each of them took a part in this activity. The elder one taught the younger how to weave coconut leaf to make a ketupat pouch. I was taught by my father and my late uncle to weave. Nowadays, sadly, everybody seems too busy to retain this tradition. People have no much leisure time for such an activity, and life become artless day by day. Many choose to buy ketupat pouch sold in market, and consequently many youth have no skill of weaving ketupat pouch.
blog ini ditulis berdua, oleh nining dan nisa, setelah melihat begitu kompleksnya percakapan kami
Tuesday, 27 November 2018
Thursday, 25 January 2018
Repost
April 16th, 2008
seolah kemarau telah tiba lama
sama sekali tak kentara kalau dua hari sebelumnya hujan turun dengan derasnya
abu turun, tapi tak sederas kemarin
jalan-jalan mulai mengering
tak lagi becek
kami berjalan bertiga beriringan
mengobrol ringan sepanjang jalan
jalanan ini, tanah lempung hitam dan padat
pasti dingin di kaki
tapi saya memakai sandal
beberapa kali kami berpapasan dengan orang-orang
yang sudah pulang
mereka memikul kayu atau pakan ternak
pasti mereka berangkat pagi-pagi sekali
sapa dan tawa bertukar-tukar
seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan
padahal ketika kami sampai di tepi sungai
yang air jernih dan sejuknya mengalir deras
itulah kekhawatiran
semua orang bergegas karena berlomba dengan sungai ini
ia bisa saja segera berubah perangai dari ramah dan menawarkan kesegaran
menjadi berwajah keruh membawa batu-batu, pasir, dan lumpur
dan tak segan menghanyutkan apa saja
batang kayu, tebing batu, atau orang lalu
tapi pagi itu ia begitu bening dan menyenangkan
jadi kami menyeberang dengan tenang
lalu jalanan mulai mendaki
kopi, kopi, kopi di kiri kanan
kalliandra dan gliricidia di sela dan di tepinya
tak banyak tanaman lain, atau pohon hutan yang tersisa
tidakkah ini juga kekhawatiran?
satu jam kami sampai di sepetak lahan dengan kopi yang masih muda
nafas tersengal keringat membanjiri punggung
dan haus
duduk di gubuk kami merasakan angin menciptakan rasa anyep di kulit kami
keringat membuat suhu tubuh lebih dingin
beberapa jambu biji merah yang masih mengkal berbalut abu
tapi rasanya benar-benar nikmat
maklum kehausan
segera setelah itu dua perempuan itu bergerak
mengayunkan sabitnya ke cabang-cabang kalliandra
bakal pakan kambing yang menunggu di kandangnya
mengayunkan sabitnya ke cabang-cabang kalliandra
bakal pakan kambing yang menunggu di kandangnya
tak lama semua telah terkumpul
tak perlu susah payah soal pakan
ternak
tanah ini subur, siapa mau menanam
akan memetik hasilnya
meski ada gamang, kalau-kalau
perhutani datang kembali mengklaim lahan ini
lalu ketika matahari hampir sampai
di atas kepala kami
kami pulang
kami pulang
mbak tukinah yang hamil tujuh bulan mambawa seikat kayu di atas kepalanya
mbak ngatirah dengan pakan kambing
saya hanya membawa tas berisi daun singkong
mbak ngatirah berjalan setengah berlari menuruni jalan sempit ini
mungkin hanya beban di atas kepalanya yang ada di pikirannya
adakah waktu untuk berhenti dan berpikir dalam hidup ini
bukankah kita memang berjalan terburu setengah berlari tanpa sempat berpikir lagi?
tapi mbak tukinah berjalan lebih pelan
entah apa yang dipikirkannya
mungkin suaminya yang bekerja di
atau anak dalam kandungannya
atau entah apa
mereka perempuan-perempuan yang bertahan dalam sulitnya hidup
tanpa bisa berbuat banyak
mereka hanya dua di antara yang sejenisnya
mungkin di barisan itu pula aku berdiri
dalam
Repost
Mengapa Matematika Penting?
Kita sering kali meragukan manfaat berbagai hal. Begitupun saya, dari dulu bertanya-tanya kenapa harus belajar matematika di sekolah. Pelajaran yang susah dan susah pula kurunut nalarnya, padahal matematika itu pure logic. Rasanya waktu sekolah dulu saya tidak
pernah menikmati pelajaran matematika
Tapi sekarang saya tahu, setidaknya dari dua hal, bahwa
matematika itu penting, yang akan saya ceritakan ini adalah hal pertama, bahkan
dalam kisah ini matematika dapat menyelamatkan nyawa
Tersebutlah di sebuah turnamen bela diri dunia……….
Krullin, teman Goku, bertarung melawan Chaozu. Chaozu adalah
murid Guru Bangau. Ia hebat. Sangat kuat. Kepalanya sekeras berlian, dan bisa
melayang-layang di udara. Sedang Krullin yang merupakan murid Pertapa Kura-Kura, bukanlah murid yang menonjol. Ia tidak seperti Goku, yang sangat
kuat dan dapat melakukan melebihi yang diajarkan gurunya.
Peraturan dalam pertarungan tersebut adalah pemenangnya
adalah siapa yang lebih dulu dapat menjatuhkan lawannya keluar dari ring. ini
sulit buat Krullin. Karena tiap kali Chaozu terdesak oleh serangannya, ia tidak
jatuh, tapi melayang menjauh. Mengapung-apung di udara, Chaozu bahkan bisa
berjalan di udara. Ia menghajar Krullin dari udara. Sementara Krullin lebih
banyak menghindari serangan itu.
Tapi Chaozu biarpun hebat ternyata tidak tahu kiri dan
kanan. Ketika Krullin melompat ke udara dan Chaozu bingung mencarinya, Guru Bangau berteriak, “di kirimu!” Chaozu bergumam, tangan kiri untuk memegang
sumpit dan tangan kanan untuk memegang
mangkok, jadi yang mana kiri…..
Tapi meski tidak tahu kiri dan kanan Chaozu tetaplah lawan
yang mengerikan. Ia memiliki jurus yang bernama gelombang dodon. Dari kedua
tangannya memancar gelomabang kuat yang dihantamkannya bertubi-tubi pada Krullin. dalam keadaan sangat terdesak Krullin mencoba memakai kamehameha,
jurus yang belum pernah dicobanya. hHsilnya tak sekuat yang dihasilkan Goku. Tapi efeknya pada Chaozu fatal karena Krullin menyerang saat Chaozu bingung
mencarinya. Tapi lagi-lagi Chaozu tidak jatuh ia melayang jauuuh...
Dan ketika kembali gurunya memerintahkannya untuk segera
membunuh Krullin, Karena ia baru mendengar berita bahwa Goku telah membunuh Tao
Pie Pie, adiknya yang sangat hebat. Guru Bangau ingin membalas dendam dengan membunuh semua murid Pertapa Kura-Kura
Hasrat membunuh Chaozu membuat Krullin memutar akal
bagaimana mengalahkannya. ia mengamati bahwa Chaozu menyerang dengan
menggunakan kedua tangannya. jadi kedua tangan itu harus disibukkan. Dalam
kondisi kesakitan, Krullin berteriak pada Chaozu “berapa 9-6?”
Chaozu ternganga, ia lalu menghitung dengan jari-jarinya,
tapi tidak segera menemukan jawabannya. “tiga” kata Krullin sambil menyerang.
Chaozu lalu ganti bertanya, “16+27?”, Krullin menjawab cepat “43″, sambil menyerang lagi. dan akhirnya
ketika Chaozu masih kagum pada kecepatan Krullin menghitung, Krullin
bertanya lagi “9-1?”……….. aaa ternyata Chaozu meski petarung hebat, benar-benar tidak bisa berhitung. dan Krullin
pun memukulnya hingga Chaozu keluar dari ring.
begitulah akhirnya, Krullin menang karena ia cerdik dan bisa
berhitung. jadi siapa bilang matematika tidak bermanfaat?
Friday, 7 October 2016
Monday, 29 August 2016
Ranu Pani dan Ranu regulo
Jum’at, 15 April 2016,
akhirnya berangkat juga ke Ranu Kumbolo. Obsesi sesungguhnya adalah Mahameru,
tapi setelah bercermin tahu diri juga, jadi target diturunkan menjadi Ranu
Kumbolo saja. Lagi pula persiapannya kurang, karena perginya mendadak. Inilah perjalanan
itu….
![]() |
| Ranu Regulo (Photo : MCU) |
Kenikmatan melihat-lihat itu akhirnya terputus setelah jalan
yang mulus itu berakhir. Selanjutnya adalah bekas jalan beraspal yang tinggal
batunya sehingga mirip sungai yang airnya mengering. Di beberapa titik masih
ada aspal yang tersisa, ada juga yang diganti dengan beton, namun putus-putus,
entah apa sebab dan maksudnya. Di penghujungnya bahkan ada kolam-kolam besar di
tengah jalan. Namun setelah melihat atap sebuah bangunan hilang semua sudah
kekhawatiran akan jatuh. Sampailah kami di Ranu Pani, yang bukan hanya nama
sebuah danau, namun juga nama desa itu sendiri. Salah satu desa tempat tinggal
keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger. Yang pertama kami lihat adalah
lahan-lahan pertanian yang ditanami sayuran, dengan kemiringan tidak masuk
akal, seperti juga di daerah dekat Bromo. Jika melihat para petani itu bekerja
aku membayangkan mereka harus dilem kakinya di permukaan tanah, jika tidak
gravitasi akan menarik mereka sehingga mereka jatuh menggelinding ke bawah.
Atau mereka harus berpegangan pada tali… meski senyatanya tidak begitu. Pada
lereng-lereng yang tinggi pun ada tanamannya. Aku akan kehabisan nafas setelah
berjalan menuju ladang dan tidak kuat bekerja setelahnya jika aku punya ladang
di situ.
Daerah yang dingin ini sejak dulu telah terkenal sebagai
penghasil sayuran. Kentang, wortel, kubis, bawang putih, bawang daun, adalah
hasil yang utama dari petani-petani Tengger. Saat kami berkunjung yang nampak
paling banyak mengisi ladang-ladang miring itu adalah bawang daun, tidak banyak
nampak tanaman lain. Mungkin ada hubungannya dengan musim.
![]() |
| ladang sayuran (photo : nining) |
![]() |
| Desa Ranu Pani di seberang danau (photo : Nining) |
Karena harus melaporkan diri jika mau naik maka kami mencari
pos taman nasional. Kami sudah siap dengan surat keterangan sehat, fotocopy
kartu identitas, juga materai untuk membuat surat pernyataan. Pos tersebut
terletak tidak jauh dari danau. Seorang gadis yang ternyata adalah relawan di
pos itu menemui kami, menjelaskan bahwa Ranu Kumbolo dan Mahameru ditutup! Ia
lalu memanggil petugas lain yang lebih senior, seorang laki-laki, yang kemudian
menjelaskan bahwa setiap tahunnya jalur pendakian ditutup selama tiga bulan,
antara bulan Januari hingga April, untuk pemulihan kawasan konservasi. Catat
noh…. Kemungkinan seminggu lagi sudah buka, selambat-lambatnya awal Mei. Patah
semangat. Akhirnya kami duduk-duduk di teras pos, melihat kiri kanan,
bertanya-tanya, membaca informasi yang ditempel-tempel, dan berfoto foto.
Mereka lalu menyarankan kami melihat-lihat Ranu Regulo yang terletak sekitar
300 meter dari Ranu Pani. Informasinya bisa juga berkemah di Ranu Regulo.
Apalagi Ranu Regulo jauh lebih bersih kondisinya jika dibanding Ranu Pani. Tapi
kalau harus menginap aku memilih tidur di pendopo TNBTS yang luas dan bersih.
Ada atapnya, hujan tidak akan mengganggu kami, toilet berjejer-jejer di dekat
situ. tinggal masuk ke sleeping bag saja. Di samping pendopo ada edelweiss,
sedang berbunga. Aku penasaran ingin tahu boleh tidak dipetik, teman-temanku
bilang tidak boleh, tapi menurutku boleh, ini kan hasil budidaya…
Akhirnya kami pergi mengunjungi toko souvenir di depan pos.
Bermacam-macam barang yang disediakan di situ. Perlengkapan hiking. Kaos yang
ada petanya, sepatu gunung, sleeping bag, jaket, kaos tangan, kalau kita
kelewatan membawa bisa membeli dulu. Stiker, gantungan kunci, dan pernik-pernik
kecil juga ada, untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Kami mengobrol dengan pemilik
toko. Sepasang suami istri yang asalnya dari Tumpang. Hanya satu toko itu yang
buka, karena memang sepi. Namun petugas taman nasional bilang tadi juga ada
rombongan yang bernasib seperti kami, semobil…
Sama dengan petugas taman nasional suami istri itu pun
menyarankan kami untuk mengunjungi Ranu Regulo. Mereka berbaik hati menawarkan
menitipkan barang bawaan di tokonya. Akhirnya kami pun berjalan turun tanpa
direpotkan oleh ransel berat, lewat di sisi kanan Ranu Pani menuju Ranu Regulo.
Ada jalan berpaving menuju ke Ranu Regulo. Di situ juga banyak bangunan,
kemungkinan pondok-pondok untuk pendaki. Namun semua tutup. Dari banner-banner
yang terpasang nampaknya banyak sekali kegiatan yang diadakan di tempat ini di
hari-hari ketika jalur pendakian tidak ditutup.
| Iresine herbstii, crocosmia, dan oxeye daisy (photo : nisa) |
| Verbena brasiliensis, calla lily, dan sejenis lobak (photo : nisa) |
yang banyak sekali terdapat di sana.
![]() |
| makaaan... (photo : MCU) |
Sampai jumpa Ranu Pani… suatu saat kami akan kembali, bukan
di bulan Januari – Mei, untuk sampai di Ranu Kumbolo seperti cita-cita yang
sudah lama kami pancangkan….
Saturday, 27 August 2016
THE QUEST FOR THE BEST BANANA BREAD RECIPE
Terhitung semenjak bulan puasa tahun ini,
saya terjangkit penyakit baru, jika itu bisa disebut penyakit. Yang saya maksud
adalah keranjingan membuat kue. Ini baru. Karena meski saya bisa memasak tanpa
pernah berupaya belajar, saya selalu merasa tahu bahwa saya tidak bisa dan akan
selalu gagal membuat kue, apapun, bahkan jenis yang paling umum seperti pisang
goreng.
Tetapi, menyadari
bahwa tukang kue tempat saya memesan kue lebaran tahun lalu sudah pindah dan saya
tidak bisa menyandarkan harapan saya padanya, maka saya pun memikirkan kue apa
kira-kira yang paling mudah dibuat. Mengingat saya juga tidak tega membiarkan
meja ruang tamu kosong tanpa kue saat lebaran. Meski saya juga tidak
sungguh-sungguh berniat membuat banyak kue, hanya sekedar agar pantas saja. Dan
lagi, begitu membuat iri setiap ada teman memposting foto kue hasil karyanya…
Pilihan jatuh pada
kastengel. Tidak perlu mencetak satu per satu, jadi pasti cepat dan tidak ruwet.
Akhirnya setelah browsing resep-resep, yang jumlahnya ternyata ratusan untuk
satu jenis kue saja, saya pun memilih satu. Itu pun masih diotak-atik agar
sesuai dengan budget, peralatan, ketersediaan bahan, dan kemampuan saya. Ajaib…
kuenya jadi! Benar-benar seperti kastengel yang saya bayangkan. Maka saya pun
punya dua toples kastengel nan lezat.
Kepercayaan diri pun
akhirnya meningkat. Setelah lebaran, ada banyak sekali pisang matang, yang
tidak segera termakan. Maka terpikirlah untuk menjadikannya bolu pisang. Mengulang
cara yang sama, browing resep dulu di internet. Dan menemukan ratusan resep
bolu pisang. Ada yang dikukus, ada yang dipanggang. Dicetak kecil-kecil maupun
di dipanggang di loyang besar. Ada yang kotak ada yang bundar. Ada yang pakai
tepung terigu ada juga yang pakai tepung beras. Ada yang menyarankan memakai butter, ada yang menyarankan pakai
margarine, (banyak yang dengan vulgar menyebut merk juga…), ada juga yang pakai
minyak goreng. Ada yang pakai pengembang kue ada yang tidak. Bingung juga
memilihnya. Akhirnya memilih satu resep yang tidak pakai telur dan tidak pakai
terigu. Mengingat gandum itu barang impor yang sangat mempengaruhi neraca
dagang negara. Hasilnya… jadi kue, tapi keras, dan terlalu manis. Makan
sepotong kecil saja sudah mblenger…
karena manisnya.
Tidak puas dan jadi
penasaran. Besoknya bikin lagi. Gulanya dikurangi. Jadinya lebih bisa diterima
lidah. Tapi tetap keras. Padahal di resepnya dikatakan hasilnya moist. Mungkin harusnya dikukus seperti
membuat apem. Percobaan ketiga dilakukan setelah mencari lagi dengan lebih
teliti. Mampirlah saya di sebuah blog yang sangat meyakinkan. Ada penjelasannya
mengapa dan bagaimana sesuatu harus dilakukan. Misalnya adonan tidak boleh
dipegang tangan, karena panasnya tangan akan berpengaruh pada adonan, misalnya
lagi bagaimana arah mengaduk yang benar. Ada juga foto-fotonya step by step. Saya pun dengan sangat
bersemangat mengikutinya, meski tidak pakai bahan yang sama persis. Karena
bahan yang disebutkan di resep itu tidak dapat ditemukan di toko maupun pasar
dekat rumah. Hanya pisangnya saja yang berlimpah. Yang ini pakai terigu,
mengabaikan soal neraca dagang negara dan kedaulatan pangan. Setelah mengikuti
langkah demi langkah dengan sangat teliti akhirnya kue pun matang. Ooooh…
mengecewakan hasilnya. Bisa sih dimakan, tapi penampilannya sungguh
mengenaskan. Sedangkan di blog itu ditunjukkan kue yang mengembang dan
berongga-rongga serupa rumah semut, punya saya padat dan bantat. Juga tidak
terasa benar kalau itu ada pisangnya.
Semua resep hanya
menggunakan tiga atau empat pisang, jadi persediaan pisang pun lambat habisnya.
Pada saat itulah saya melihat di food making GIF di Google+, cara membuat kue
pisang yang nampaknya sangat mudah. Tidak pakai menimbang-nimbang bahan-bahan,
pakai cangkir saja menakarnya, tidak perlu dimixer sampai benar-benar putih dan
mengembang. Dengan keputusan bahwa ini adalah percobaan terakhir, kalau gagal
saya akan berhenti. Dibandingkan tiga percobaan sebelumnya yang keempat ini
dilakukan carelessly. Setelah diaduk
semua, dimasukkan loyang, lalu dioven. Ketika sudah lewat setengah jam, karena
penasaran, mencoba mengintip. Aaah... nampaknya mengembang. Waktu kue matang
rasanya hati senang. Berbeda dengan yang sebelumnya yang ini lebih mirip kue di
buku-buku resep. Mengembang, lembut, tidak bantat, meski agak gosong, karena
tidak yakin kalau sudah matang, jadi tidak segera diangkat. Indikator
keberhasilan lainnya adalah : dalam waktu relatif singkat kuenya habis!
Hanya saja, setelah
semua percobaan itu, saya masih terus penasaran dan tidak berhenti mencari-cari
resep yang lebih mudah. Kemudian saya mulai mengganti kata kunci pencarian dari
bolu pisang atau cake pisang menjadi banana
bread recipes. Ternyata banyak yang lebih sederhana. Beberapa telah saya
simpan, cuma belum dicoba, menunggu pisang di kebun matang terlebih dahulu.
Lalu ketika tidak
punya pisang saya beralih membuat pumpkin
bread, ketika itulah tiba-tiba mixer rusak, akhirnya saya pun kembali pada
pengocok telur model lama. Yang membuat saya tidak bisa mengocok telur sampai
mengembang betul. Karena capek juga. Jadi ketika punya pisang matang lagi, saya
mengulang percobaan membuat banana bread.
Asal kocok saja, pisangnya juga belum kematangan. Akibatnya tidak bisa hancur
benar. Hasilnya, kue yang teksturnya kasar…
Besoknya mencoba
lagi. kali ini berusaha lebih telaten mengocok telurnya, sampai warnanya putih.
Pisangnya pun lebih halus. Waktu hampir matang, aduuuh baunya… harum sekali!
Memenuhi dapur. Kali ini saya pakai loyang yang lebih kecil, jadinya kuenya
nampak lebih tinggi. Yang kali ini bukan hanya harumnya yang menggoda, tapi
juga teksturnya lebih lembut. Berongga-rongga seperti umumnya cake. Rasanya?
Enak sekali….
Setiap percobaan ada fotonya, tapi tidak
sampai hati saya untuk memuatnya di sini, kecuali yang satu ini. Karena hanya
akan membangkitkan kenangan yang bisa merusak semangat dan memberatkan
hari-hari yang akan datang saja J dan lagi repot kan upload terlalu banyak
foto? Yang ini hasil percobaan terakhir. Tidak sabar menunggu dingin sudah
keburu dipotong, ditambah pisaunya kurang tajam. Jadinya hancur begitu.
Terlepas dari
penampilannya yang kurang appealing,
inilah resep yang sekarang saya yakini paling baik, maksudnya yang kalau saya
bikin pasti berhasil…
Resep cake pisang
Bahannya :
-
3 buah
pisang masak (setelah saya coba, pisang apa saja enak, asal masak)
-
2
cangkir tepung terigu
-
2 butir
telur
-
1 kuning
telur
-
¾
cangkir mentega dicairkan
-
¾ gula
pasir
-
3 sdm
susu coklat kental manis
-
½ sdt
Soda kue
-
½ sdt
Kayu manis bubuk
-
Garam
(optional)
Caranya :
1. Siapkan loyang, olesi dengan mentega, taburi
tepung
2. Panaskan oven (saya tidak bisa menjelaskan
berapa suhunya, saya cuma pakai panci serbaguna, dipanggang di atas kompor dengan
api sedang sekitar 45 menit)
3. Pisang dihancurkan sampai halus, tambahkan
susu coklat dan mentega cair, sisihkan.
4. Kocok telur dan gula sampai mengembang
5. Tambahkan tepung, soda, kayu manis, dan garam
ke dalam kocokan telur. Aduk rata.
6. Aduk dengan pisang hingga rata.
7. Masukkan ke dalam Loyang. Panggang sampai
matang
Nah, tidak jujur
kalau cuma menunjukkan hasil uji coba sendiri seolah-olah itu hasil kerja saya
sendiri. Ini contekannya htttps://plus.google.com/+YahiyaMv/posts/6yFSEtNV7PM
Tidak persis benar,
karena punya saya sudah melalui berbagai penyesuaian.
Agustus, 2016
Tuesday, 20 October 2015
Moringa oleifera
Ungkapan 'dunia tak
seluas daun kelor, membuat hampir semua
orang pernah mendengar daun kelor, meski
tidak berarti bahwa kemudian mereka tahu seperti apa bentuknya. Dulu saya kira
daun kelor itu kecil sekali, sampai-sampai dibuat sebagai perumpamaan mengenai
luasnya dunia. Begitu saya mengetahui sebesar apa daunnya, jadi terpikir kenapa
daun kelor yang dipakai sebagai
perumpamaan, kenapa tidak 'dunia tak selebar daun meniran' atau dunia
tak selebar daun putri malu'. Kedua daun itu ukurannya lebih kecil dari daun
kelor…
Hal kedua yang
melekat padanya adalah daun kelor
berfungsi untuk merontokkan jimat, susuk, dan sebagainya. Kalau ada
orang yang mendekati ajal namun susah sekali matinya, katanya itu karena di tubuh mereka masih ada
jimat atau susuk atau punya ilmu -sipat kandel- yang belum dilepas. sehingga raganya tidak mau kalah, meski harusnya sudah mati tapi raganya masih tetap berkeras untuk survive. Untuk merontokkan semua
itu dipakailah daun kelor. Saya sendiri belum pernah melihat bagaimana caranya,
apakah air rebusannya diminumkan, atau apakah daun-daunnya dipukul-pukulkan
pada bagian yang mengandung jimat -terus terang adegan ini yang selalu saya
bayangkan berhubungan dengan ritual merontokkan jimat ini- atau daunnya
ditumbuk lalu dioleskan di bagian tubuh yang berjimat itu.
Masuk dalam suku moringaceae, kelor berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 11 meter, kulit kayunya berwarna putih keabuan. Kalau dia pendek menyerupai semak, besar kemungkinannya karena pemiliknya terlalu rajin memangkasnya untuk dijadikan bahan sayur. Daunnya berbentuk bulat telur, tersusun majemuk dalam satu tangkai. Kalau susah membayangkan dari deskripsi ini maka kukatakan saja bahwa bentuk dan susunan daun kelor itu mirip dengan daun lamtoro (Leucaena leucocephala), daun sengon (Albizia falcataria), daun kaliandra (Calliandra calothyrsus), atau daun petai (Parkia speciosa). Beda warna, ukuran, dan bentuknya saja. Bunganya berwarna putih kekuningan, namanya dalam bahasa Jawa limaran. Ada motif kain batik limaran, mungkin terinspirasi oleh bunga-bunga kelor ini. Nama istri Panji ketika menyamar saat mencari-cari suaminya (kenapa suaminya suka menghilang-hilang ya?) juga Dewi Limaran. Jadi sebenarnya meski kelor diyakini berasal dari daerah di sekitar Himalaya, sebenarnya tanaman ini juga sudah sangat akrab dengan masyarakat Jawa.
Di berbagai daerah
pedesaan, daun kelor sangat umum dijadikan sayur, juga buahnya yang panjang, yang di jawa disebut klenthang.
Biasanya disayur bening atau disayur asam dengan tambahan cabe rawit, sehingga
rasanya asam-asam pedas, sangat segar di kala panas kemarau. Dibumbui bawang merah, cabe merah, cabe rawit, kemiri, terasi, daun salam, lengkuas, asam jawa, dan garam. Jangan pula meremehkan
daun kelor, meski murah dan mudah didapat di pagar tetangga, namun kelor
mengandung vitamin A dan vitamin C yang cukup tinggi. Pengobatan ayurvedic
menyebutkan jika kita memiliki kelor di halaman
rumah kita memiliki obat untuk segala macam penyakit. Kelor juga bermanfaat
untuk menyembuhkan panas dalam,
sariawan, rambut rontok dan berketombe. Di tempat asalnya tumbuhan ini juga dimanfaatkan sebagai pangan dan obat dan banyak dibudidayakan, juga dalam skala besar dalam era ini. Karena manfaatnya yang luar biasa juga sudah diteliti dengan cara-cara ilmiah, tak mengherankan jika kelor juga sudah masuk dalam industri untuk dijadikan salah satu barang jualan berharga. Ada bermacam kapsul berbahan kelor yang menawarkan kesembuhan dan kebugaran bagi mereka yang berpenyakit, lemah lesu, dan terobsesi kepada kesehatan. kelor juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik.
Kelor adalah nama yang dipakai di masyarakat Jawa. Nama latin yang paling sering dijumpai adalah Moringa oleifera, oleifera artinya oily, mengandung minyak, ada juga sinonimnya, Guillandina moringa L, dan Hyperanthera moringa L. Nama latin ini justru terdengar lebih mirip dengan nama melayunya, merunggai, dan juga nama maduranya, meronggih. Konon nama moringa berasal dari nama Tamilnya, murungai. Mengingat bahwa di oindia dan sekitarnya kelor termasuk tumbuhan yang sangat banyak digunakan, maka kemungkinan para pendatang dari Tamil, India, dan sebagainya yang kemudian mengilhami nama merunggai dan meronggih ini. kalau orang Jawa menyebutnya kelor, entah itu dari mana asalnya....
Subscribe to:
Posts (Atom)








