Tuesday, 27 November 2018

Ketupat

Ketupat ( in Indonesian) or kupat (in Javanese) is rice cooked inside a woven coconut leaf pouch. In Java, this food traditionally served in the seventh day after Eid. It is a symbol of seeking and giving forgiveness.

It is usually served with sayur, thus called ketupat sayur. Sayur itself is a kind of soup. The one made to accompany ketupat usually made from vegetables, such like potato, chayote, and bean sprout. Besides vegetables, usually some tofu also added. The soup is spiced with shallots, garlic, galangal, turmeric, candlenut, salam leaf, keffir lime leaf, red chilli pepper, and salt. Then boiled in coconut milk. In my place a complete dish of ketupat consists of ketupat, sayur, lepet (sticky rice mixed with grated coconut steamed inside a woven coconut leaf pouch or wrapped in a piece of banana leaf). Sometimes lontong (rice wrapped in a piece of banana leaf in cylindrical or cone shape) also added. The pouch for lepet has a different shape from ketupat pouch.

Weaving ketupat is an interesting activity. In the past, family members gathered and each of them took a part in this activity. The elder one taught the younger how to weave coconut leaf to make a ketupat pouch. I was taught by my father and my late uncle to weave. Nowadays, sadly, everybody seems too busy to retain this tradition. People have no much leisure time for such an activity, and life become artless day by day. Many choose to buy ketupat pouch sold in market, and consequently many youth have no skill of weaving ketupat pouch.

Thursday, 25 January 2018

Repost

Perempuan-perempuan

April 16th, 2008 

pagi itu cerah sekali
seolah kemarau telah tiba lama
sama sekali tak kentara kalau dua hari sebelumnya hujan turun dengan derasnya
abu turun, tapi tak sederas kemarin
jalan-jalan mulai mengering
tak lagi becek


kami berjalan bertiga beriringan
mengobrol ringan sepanjang jalan
jalanan ini, tanah lempung hitam dan padat
pasti dingin di kaki
tapi saya memakai sandal


beberapa kali kami berpapasan dengan orang-orang
yang sudah pulang
mereka memikul kayu atau pakan ternak
pasti mereka berangkat pagi-pagi sekali
sapa dan tawa bertukar-tukar
seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan

padahal ketika kami sampai di tepi sungai
yang air jernih dan sejuknya mengalir deras
itulah kekhawatiran


semua orang bergegas karena berlomba dengan sungai ini
ia bisa saja segera berubah perangai dari ramah dan menawarkan kesegaran
menjadi berwajah keruh membawa batu-batu, pasir, dan lumpur
dan tak segan menghanyutkan apa saja
batang kayu, tebing batu, atau orang lalu


tapi pagi itu ia begitu bening dan menyenangkan
jadi kami menyeberang dengan tenang


lalu jalanan mulai mendaki
kopi, kopi, kopi di kiri kanan
kalliandra dan gliricidia di sela dan di tepinya
tak banyak tanaman lain, atau pohon hutan yang tersisa
tidakkah ini juga kekhawatiran?


satu jam kami sampai di sepetak lahan dengan kopi yang masih muda
nafas tersengal keringat membanjiri punggung
dan haus


duduk di gubuk kami merasakan angin menciptakan rasa anyep di kulit kami
keringat membuat suhu tubuh lebih dingin
beberapa jambu biji merah yang masih mengkal berbalut abu
tapi rasanya benar-benar nikmat
maklum kehausan


segera setelah itu dua perempuan itu bergerak
mengayunkan sabitnya ke cabang-cabang kalliandra
bakal pakan kambing yang menunggu di kandangnya
tak lama semua telah terkumpul
tak perlu susah payah soal pakan ternak
tanah ini subur, siapa mau menanam akan memetik hasilnya
meski ada gamang, kalau-kalau perhutani datang kembali mengklaim lahan ini

lalu ketika matahari hampir sampai di atas kepala kami
kami pulang

mbak tukinah yang hamil tujuh bulan mambawa seikat kayu di atas kepalanya
mbak ngatirah dengan pakan kambing
saya hanya membawa tas berisi daun singkong

perjalanan pulang terasa lebih melelahkan
mbak ngatirah berjalan setengah berlari menuruni jalan sempit ini
mungkin hanya beban di atas kepalanya yang ada di pikirannya
adakah waktu untuk berhenti dan berpikir dalam hidup ini
bukankah kita memang berjalan terburu setengah berlari tanpa sempat berpikir lagi?


tapi mbak tukinah berjalan lebih pelan
entah apa yang dipikirkannya
mungkin suaminya yang bekerja di malaysia
atau anak dalam kandungannya
atau entah apa



mereka perempuan-perempuan yang bertahan dalam sulitnya hidup
tanpa bisa berbuat banyak
mereka hanya dua di antara yang sejenisnya
mungkin di barisan itu pula aku berdiri
dalam gaya dan pose yang lain….
Repost
Mengapa Matematika Penting?

Kita sering kali meragukan manfaat berbagai hal. Begitupun saya, dari dulu bertanya-tanya kenapa harus belajar matematika di sekolah. Pelajaran yang susah dan susah pula kurunut nalarnya, padahal matematika itu pure logic. Rasanya waktu sekolah dulu saya tidak pernah menikmati pelajaran matematika

Tapi sekarang saya tahu, setidaknya dari dua hal, bahwa matematika itu penting, yang akan saya ceritakan ini adalah hal pertama, bahkan dalam kisah ini matematika dapat menyelamatkan nyawa

Tersebutlah di sebuah turnamen bela diri dunia……….

Krullin, teman Goku, bertarung melawan Chaozu. Chaozu adalah murid Guru Bangau. Ia hebat. Sangat kuat. Kepalanya sekeras berlian, dan bisa melayang-layang di udara. Sedang Krullin yang merupakan murid Pertapa Kura-Kura, bukanlah murid yang menonjol. Ia tidak seperti Goku, yang sangat kuat dan dapat melakukan melebihi yang diajarkan gurunya.

Peraturan dalam pertarungan tersebut adalah pemenangnya adalah siapa yang lebih dulu dapat menjatuhkan lawannya keluar dari ring. ini sulit buat Krullin. Karena tiap kali Chaozu terdesak oleh serangannya, ia tidak jatuh, tapi melayang menjauh. Mengapung-apung di udara, Chaozu bahkan bisa berjalan di udara. Ia menghajar Krullin dari udara. Sementara Krullin lebih banyak menghindari serangan itu.

Tapi Chaozu biarpun hebat ternyata tidak tahu kiri dan kanan. Ketika Krullin melompat ke udara dan Chaozu bingung mencarinya, Guru Bangau berteriak, “di kirimu!” Chaozu bergumam, tangan kiri untuk memegang sumpit dan tangan  kanan untuk memegang mangkok, jadi yang mana kiri…..

Tapi meski tidak tahu kiri dan kanan Chaozu tetaplah lawan yang mengerikan. Ia memiliki jurus yang bernama gelombang dodon. Dari kedua tangannya memancar gelomabang kuat yang dihantamkannya bertubi-tubi pada Krullin. dalam keadaan sangat terdesak Krullin mencoba memakai kamehameha, jurus yang belum pernah dicobanya. hHsilnya tak sekuat yang dihasilkan Goku. Tapi efeknya pada Chaozu fatal karena Krullin menyerang saat Chaozu bingung mencarinya. Tapi lagi-lagi Chaozu tidak jatuh ia melayang jauuuh...

Dan ketika kembali gurunya memerintahkannya untuk segera membunuh Krullin, Karena ia baru mendengar berita bahwa Goku telah membunuh Tao Pie Pie, adiknya yang sangat hebat. Guru Bangau ingin membalas  dendam dengan membunuh semua murid Pertapa Kura-Kura

Hasrat membunuh Chaozu membuat Krullin memutar akal bagaimana mengalahkannya. ia mengamati bahwa Chaozu menyerang dengan menggunakan kedua tangannya. jadi kedua tangan itu harus disibukkan. Dalam kondisi kesakitan, Krullin berteriak pada Chaozu “berapa 9-6?”

Chaozu ternganga, ia lalu menghitung dengan jari-jarinya, tapi tidak segera menemukan jawabannya. “tiga” kata Krullin sambil menyerang. Chaozu lalu ganti bertanya,  “16+27?”, Krullin menjawab cepat “43″, sambil menyerang lagi. dan akhirnya ketika Chaozu masih kagum pada kecepatan Krullin menghitung, Krullin bertanya lagi “9-1?”……….. aaa ternyata Chaozu meski petarung hebat,  benar-benar tidak bisa berhitung. dan Krullin pun memukulnya hingga Chaozu keluar dari ring.


begitulah akhirnya, Krullin menang karena ia cerdik dan bisa berhitung. jadi siapa bilang matematika tidak bermanfaat?

Monday, 29 August 2016

Ranu Pani dan Ranu regulo


Jum’at, 15 April 2016, akhirnya berangkat juga ke Ranu Kumbolo. Obsesi sesungguhnya adalah Mahameru, tapi setelah bercermin tahu diri juga, jadi target diturunkan menjadi Ranu Kumbolo saja. Lagi pula persiapannya kurang, karena perginya mendadak. Inilah perjalanan itu….

Ranu Regulo (Photo : MCU)
Dari arah Senduro menuju ke Ranu Kumbolo kita harus menuju Ranu Pani terlebih dahulu. Melewati Desa Burno, kemudian kita akan melalui hutan produksi perhutani yang ditanami Damar. Jalannya menurut bapak yang menjual bensin di toko tempat kami mampir mengisi bensin sebelum berangkat 50%. Maksudnya 50% bagus dan sisanya rusak. Dalam bayanganku kalau pembagian 50-50 itu dibelah kiri dan kanan, maka tidak masalah. Tapi kalau dipotong jadi dua depan dan belakang maka agak repot. Ternyata dari Burno jalannya mulus, masih baru, lewat hutan Damar juga masih bagus, masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru juga masih bagus. Jadilah ada kesempatan untuk melihat kiri kanan. Kangmas Pohon, Mbakyu Pohon, Bapak Pohon, Ibu Pohon, Kakek Pohon, Nenek Pohon, Buyut Pohon Kakung dan Putri Berdiri di kiri kanan jalan. Lengan-lengannya mengembang lebar karena ukuran mereka yang begitu besar. Di tubuh mereka paku-pakuan, benalu, lumut, epifit, dan teman-temannya mondok. Mungkin burung atau kera atau angin yang mencarikan mereka induk semang itu. Tentunya mereka juga membiarkan hewan-hewan menumpang juga. Tak ada satupun yang dapat kukenali dari motor yang melaju. Yang tertangkap hanya hijau yang menyegarkan. Di bawah pohon-pohon itu semak dan terna lain tumbuh. Sepanjang tepi jalan banyak sekali Impatiens chonoceras yang berbunga ungu. Selain itu yang banyak sekali terlihat adalah pohon pisang, meski tidak ada yang berbuah. Dan meski ada papan peringatan dan pemberitahuan yang mengatakan bahwa kawasan itu adalah tempat hewan melintas sehingga kita manusia tidak boleh ribut-ribut, namun saya tidak menjumpai mereka. Tidak kijang, tidak kera, ada burung tapi di udara….

Kenikmatan melihat-lihat itu akhirnya terputus setelah jalan yang mulus itu berakhir. Selanjutnya adalah bekas jalan beraspal yang tinggal batunya sehingga mirip sungai yang airnya mengering. Di beberapa titik masih ada aspal yang tersisa, ada juga yang diganti dengan beton, namun putus-putus, entah apa sebab dan maksudnya. Di penghujungnya bahkan ada kolam-kolam besar di tengah jalan. Namun setelah melihat atap sebuah bangunan hilang semua sudah kekhawatiran akan jatuh. Sampailah kami di Ranu Pani, yang bukan hanya nama sebuah danau, namun juga nama desa itu sendiri. Salah satu desa tempat tinggal keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger. Yang pertama kami lihat adalah lahan-lahan pertanian yang ditanami sayuran, dengan kemiringan tidak masuk akal, seperti juga di daerah dekat Bromo. Jika melihat para petani itu bekerja aku membayangkan mereka harus dilem kakinya di permukaan tanah, jika tidak gravitasi akan menarik mereka sehingga mereka jatuh menggelinding ke bawah. Atau mereka harus berpegangan pada tali… meski senyatanya tidak begitu. Pada lereng-lereng yang tinggi pun ada tanamannya. Aku akan kehabisan nafas setelah berjalan menuju ladang dan tidak kuat bekerja setelahnya jika aku punya ladang di situ.

ladang sayuran (photo : nining)
Daerah yang dingin ini sejak dulu telah terkenal sebagai penghasil sayuran. Kentang, wortel, kubis, bawang putih, bawang daun, adalah hasil yang utama dari petani-petani Tengger. Saat kami berkunjung yang nampak paling banyak mengisi ladang-ladang miring itu adalah bawang daun, tidak banyak nampak tanaman lain. Mungkin ada hubungannya dengan musim.

Desa Ranu Pani di seberang danau (photo : Nining)
Dalam suasana mendung dan sedikit berkabut, tempat yang sunyi itu terasa tidak nyata, rasanya seperti masuk ke dalam gambar kalender. Ranu Pani berada pada ketinggian 2200 meter di atas permukaan laut. Suhu udara sudah terasa dingin, namun masih dapat ditolerir. Tanpa mengenakan jaket pun masih terasa nyaman. Saat kami sampai langit berawan, namun sinar matahari masih dapat menerobos ke bumi. Desanya berada di seberang danau yang sayangnya sudah kotor karena banyak sampah, dan nampaknya juga mengalami pendangkalan dan penyempitan. Namun, mau tidak mau aku masih tetap tercengang melihat pemandangan yang indah itu. Rumah-rumah nampak kecil-kecil di seberang danau, dengan ladang-ladang sayuran di latar belakangnya, lalu perbukitan dengan pepohonan membatasi tempat itu, memisahkannya dari dunia di luarnya.


Karena harus melaporkan diri jika mau naik maka kami mencari pos taman nasional. Kami sudah siap dengan surat keterangan sehat, fotocopy kartu identitas, juga materai untuk membuat surat pernyataan. Pos tersebut terletak tidak jauh dari danau. Seorang gadis yang ternyata adalah relawan di pos itu menemui kami, menjelaskan bahwa Ranu Kumbolo dan Mahameru ditutup! Ia lalu memanggil petugas lain yang lebih senior, seorang laki-laki, yang kemudian menjelaskan bahwa setiap tahunnya jalur pendakian ditutup selama tiga bulan, antara bulan Januari hingga April, untuk pemulihan kawasan konservasi. Catat noh…. Kemungkinan seminggu lagi sudah buka, selambat-lambatnya awal Mei. Patah semangat. Akhirnya kami duduk-duduk di teras pos, melihat kiri kanan, bertanya-tanya, membaca informasi yang ditempel-tempel, dan berfoto foto. Mereka lalu menyarankan kami melihat-lihat Ranu Regulo yang terletak sekitar 300 meter dari Ranu Pani. Informasinya bisa juga berkemah di Ranu Regulo. Apalagi Ranu Regulo jauh lebih bersih kondisinya jika dibanding Ranu Pani. Tapi kalau harus menginap aku memilih tidur di pendopo TNBTS yang luas dan bersih. Ada atapnya, hujan tidak akan mengganggu kami, toilet berjejer-jejer di dekat situ. tinggal masuk ke sleeping bag saja. Di samping pendopo ada edelweiss, sedang berbunga. Aku penasaran ingin tahu boleh tidak dipetik, teman-temanku bilang tidak boleh, tapi menurutku boleh, ini kan hasil budidaya…

Akhirnya kami pergi mengunjungi toko souvenir di depan pos. Bermacam-macam barang yang disediakan di situ. Perlengkapan hiking. Kaos yang ada petanya, sepatu gunung, sleeping bag, jaket, kaos tangan, kalau kita kelewatan membawa bisa membeli dulu. Stiker, gantungan kunci, dan pernik-pernik kecil juga ada, untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Kami mengobrol dengan pemilik toko. Sepasang suami istri yang asalnya dari Tumpang. Hanya satu toko itu yang buka, karena memang sepi. Namun petugas taman nasional bilang tadi juga ada rombongan yang bernasib seperti kami, semobil…

Sama dengan petugas taman nasional suami istri itu pun menyarankan kami untuk mengunjungi Ranu Regulo. Mereka berbaik hati menawarkan menitipkan barang bawaan di tokonya. Akhirnya kami pun berjalan turun tanpa direpotkan oleh ransel berat, lewat di sisi kanan Ranu Pani menuju Ranu Regulo. Ada jalan berpaving menuju ke Ranu Regulo. Di situ juga banyak bangunan, kemungkinan pondok-pondok untuk pendaki. Namun semua tutup. Dari banner-banner yang terpasang nampaknya banyak sekali kegiatan yang diadakan di tempat ini di hari-hari ketika jalur pendakian tidak ditutup.

Iresine herbstii, crocosmia, dan oxeye daisy (photo : nisa)
Verbena brasiliensis, calla lily, dan sejenis lobak (photo : nisa)
Sepanjang jalan yang pendek itu banyak sekali tumbuh-tumbuhan yang indah, yang jarang kami temui di tempat lain. Berwarna-warni. Sebagian berbunga. Tersebar di tepi-tepi danau dan di kiri kanan jalan, berbaur dengan semak-semak hijau yang segar. Seolah Tuhan sengaja membuat taman di sini. Tapi Mini bilang yang bikin pasti asisten Nya… akhirnya kami berdua tertinggal jauh di belakang karena sibuk melihat-lihat, mengamati, memotret dan juga memanen, karena banyak sekali ciplukan di pinggir jalan. Bukan jenis yang biasa ditemui sehari hari di ladang-ladang sekitar kami, yang ini batangnya lebih tinggi dan nampak lebih kekar, daunnya berbulu, berwarna agak keunguan, buahnya juga lebih besar. Sayangnya belum banyak yang matang. Di antara tumbuhan yang kami temui ada crocosmia, yang bunganya berwarna jingga, bersusun-susun dalam tangkai panjang yang ketika terayun karena angin nampak sangat anggun. Lalu Verbena brasiliensis, yang berbunga ungu. Bukan flora lokal, namun tumbuhan ini telah menginvasi wilayah sekitar Semeru sampai-sampai mengganggu tumbuhan setempat. Jadi meskipun warna ungunya begitu indah namun tumbuhan ini meresahkan juga. Pesatnya pertumbuhan Verbena brasiliensis dapat dilihat dari padang-padang di sekitar Semeru yang berwarna ungu tertutup tumbuhan ini. Yang berbunga putih adalah sejenis aster, oxeye daisy (Crysanthemum leucanthemun). Entah apa nama lokalnya. Yang bunganya kuning entah apa namanya, daunnya halus berjari, mirip daun tomat. Lalu ada pula yang kurasa itu adalah nenek moyang sawi yang kita makan sehari-hari. Di foto cuma nampak setengah bagian tumbuhan. Daunnya lebih tebal dari sawi pada umumnya. Namun di situ tidak ada yang bisa ditanyai apakah daunnya juga bisa dimasak. Sedang yang daunnya merah adalah anggota famili bayam-bayaman, Iresine herbstii. Bukan jenis yang dapat dimakan. Namun, konon daunnya dapat digunakan sebagai pewarna agar-agar. Di banyak tempat, utamanya yang berhawa sejuk, saya sering menemukan tumbuhan ini, juga jenis yang berdaun hijau, kuning, merah. Ditanam sebagai tanaman penghias taman. Hanya saja belum pernah melihat yang tumbuh sesubur dan sesegar ini. Sedang yang bunganya putih seperti anthurium adalah calla lily (Zantedeschia ethiopica), sesungguhnya ia juga masih sekeluarga dengan anthurium, sesama araceae. Ada lagi yang banyak sekali tumbuh, bunganya kecil dan halus berwarna ungu lembut (ada fotonya tapi tidak jelas). Berumbi putih keunguan, mirip lobak umbinya. Itu semua adalah tumbuhan-tumbuhan berbunga
yang banyak sekali terdapat di sana.

makaaan... (photo : MCU)
Jalan menuju Ranu Regulo datar, kita bisa menikmati perjalanan pendek itu tanpa terengah-engah. Ranu Regulo benar-benar lebih bersih dari Ranu Pani, tapi menurutku tidak ada camping ground di situ, yang ada adalah tanah berumput panjang yang tidak cocok untuk mendirikan tenda, lagi-lagi itu menurutku. Ada semacam dermaga di tepi danau, meski tidak ada perahunya, dari beton. Sepi, hanya ada sepasang muda-mudi berpacaran. Yang begitu kami datang langsung pergi meninggalkan tempat, karena dunia tidak lagi menjadi milik mereka berdua dengan adanya invasi kami. Akhirnya kamilah yang menguasai tempat yang nyaman itu. Di dermaga itu kita bisa duduk-duduk dengan nyaman sambil memandangi air danau di mana ikan-ikan kecil berenang di antara rumput-rumput air, sambil mendengarkan desau angin menerobos dedaunan. Suaranya keras sekali, gemerisik seperti hujan datang mendekat. Padahal itu suara angin. Di sekeliling danau banyak sekali pohon-pohon cemara, indah sekali, dan tenang. Jauh dari keriuhan dan bebas dari kebisingan. Sangat nyaman di situ. Kalau Sapardi yang datang pastilah ia sudah menceritakan air danau, angin, langit yang kelabu, pepohonan, dedaunan, bebungaan, kesunyian, dan ikan-ikan itu dalam puisi-puisi yang indah. Sedang kami, rombongan pendaki amatir, gagal pula, yang setengah kecewa ini hanya bisa ternganga-nganga melihat alam yang begitu luar biasa itu. Akhirnya, kami merasa lapar, meski belum begitu lama jaraknya dengan sarapan. Maka kami pun membuka bekal dan makan di situ. Begitulah kesudahan kunjungan kami yang diawali dengan semangat 10 November arek-arek Surabaya…
Sampai jumpa Ranu Pani… suatu saat kami akan kembali, bukan di bulan Januari – Mei, untuk sampai di Ranu Kumbolo seperti cita-cita yang sudah lama kami pancangkan….
alhamdulillah... senyum kami masih manis
 meski gagal pergi ke Ranu Kumbolo




Saturday, 27 August 2016

THE QUEST FOR THE BEST BANANA BREAD RECIPE


Terhitung semenjak bulan puasa tahun ini, saya terjangkit penyakit baru, jika itu bisa disebut penyakit. Yang saya maksud adalah keranjingan membuat kue. Ini baru. Karena meski saya bisa memasak tanpa pernah berupaya belajar, saya selalu merasa tahu bahwa saya tidak bisa dan akan selalu gagal membuat kue, apapun, bahkan jenis yang paling umum seperti pisang goreng.

Tetapi, menyadari bahwa tukang kue tempat saya memesan kue lebaran tahun lalu sudah pindah dan saya tidak bisa menyandarkan harapan saya padanya, maka saya pun memikirkan kue apa kira-kira yang paling mudah dibuat. Mengingat saya juga tidak tega membiarkan meja ruang tamu kosong tanpa kue saat lebaran. Meski saya juga tidak sungguh-sungguh berniat membuat banyak kue, hanya sekedar agar pantas saja. Dan lagi, begitu membuat iri setiap ada teman memposting foto kue hasil karyanya…

Pilihan jatuh pada kastengel. Tidak perlu mencetak satu per satu, jadi pasti cepat dan tidak ruwet. Akhirnya setelah browsing resep-resep, yang jumlahnya ternyata ratusan untuk satu jenis kue saja, saya pun memilih satu. Itu pun masih diotak-atik agar sesuai dengan budget, peralatan, ketersediaan bahan, dan kemampuan saya. Ajaib… kuenya jadi! Benar-benar seperti kastengel yang saya bayangkan. Maka saya pun punya dua toples kastengel nan lezat.

Kepercayaan diri pun akhirnya meningkat. Setelah lebaran, ada banyak sekali pisang matang, yang tidak segera termakan. Maka terpikirlah untuk menjadikannya bolu pisang. Mengulang cara yang sama, browing resep dulu di internet. Dan menemukan ratusan resep bolu pisang. Ada yang dikukus, ada yang dipanggang. Dicetak kecil-kecil maupun di dipanggang di loyang besar. Ada yang kotak ada yang bundar. Ada yang pakai tepung terigu ada juga yang pakai tepung beras. Ada yang menyarankan memakai butter, ada yang menyarankan pakai margarine, (banyak yang dengan vulgar menyebut merk juga…), ada juga yang pakai minyak goreng. Ada yang pakai pengembang kue ada yang tidak. Bingung juga memilihnya. Akhirnya memilih satu resep yang tidak pakai telur dan tidak pakai terigu. Mengingat gandum itu barang impor yang sangat mempengaruhi neraca dagang negara. Hasilnya… jadi kue, tapi keras, dan terlalu manis. Makan sepotong kecil saja sudah mblenger… karena manisnya.

Tidak puas dan jadi penasaran. Besoknya bikin lagi. Gulanya dikurangi. Jadinya lebih bisa diterima lidah. Tapi tetap keras. Padahal di resepnya dikatakan hasilnya moist. Mungkin harusnya dikukus seperti membuat apem. Percobaan ketiga dilakukan setelah mencari lagi dengan lebih teliti. Mampirlah saya di sebuah blog yang sangat meyakinkan. Ada penjelasannya mengapa dan bagaimana sesuatu harus dilakukan. Misalnya adonan tidak boleh dipegang tangan, karena panasnya tangan akan berpengaruh pada adonan, misalnya lagi bagaimana arah mengaduk yang benar. Ada juga foto-fotonya step by step. Saya pun dengan sangat bersemangat mengikutinya, meski tidak pakai bahan yang sama persis. Karena bahan yang disebutkan di resep itu tidak dapat ditemukan di toko maupun pasar dekat rumah. Hanya pisangnya saja yang berlimpah. Yang ini pakai terigu, mengabaikan soal neraca dagang negara dan kedaulatan pangan. Setelah mengikuti langkah demi langkah dengan sangat teliti akhirnya kue pun matang. Ooooh… mengecewakan hasilnya. Bisa sih dimakan, tapi penampilannya sungguh mengenaskan. Sedangkan di blog itu ditunjukkan kue yang mengembang dan berongga-rongga serupa rumah semut, punya saya padat dan bantat. Juga tidak terasa benar kalau itu ada pisangnya.

Semua resep hanya menggunakan tiga atau empat pisang, jadi persediaan pisang pun lambat habisnya. Pada saat itulah saya melihat di food making GIF di Google+, cara membuat kue pisang yang nampaknya sangat mudah. Tidak pakai menimbang-nimbang bahan-bahan, pakai cangkir saja menakarnya, tidak perlu dimixer sampai benar-benar putih dan mengembang. Dengan keputusan bahwa ini adalah percobaan terakhir, kalau gagal saya akan berhenti. Dibandingkan tiga percobaan sebelumnya yang keempat ini dilakukan carelessly. Setelah diaduk semua, dimasukkan loyang, lalu dioven. Ketika sudah lewat setengah jam, karena penasaran, mencoba mengintip. Aaah... nampaknya mengembang. Waktu kue matang rasanya hati senang. Berbeda dengan yang sebelumnya yang ini lebih mirip kue di buku-buku resep. Mengembang, lembut, tidak bantat, meski agak gosong, karena tidak yakin kalau sudah matang, jadi tidak segera diangkat. Indikator keberhasilan lainnya adalah : dalam waktu relatif singkat kuenya habis!

Hanya saja, setelah semua percobaan itu, saya masih terus penasaran dan tidak berhenti mencari-cari resep yang lebih mudah. Kemudian saya mulai mengganti kata kunci pencarian dari bolu pisang atau cake pisang menjadi banana bread recipes. Ternyata banyak yang lebih sederhana. Beberapa telah saya simpan, cuma belum dicoba, menunggu pisang di kebun matang terlebih dahulu.
Lalu ketika tidak punya pisang saya beralih membuat pumpkin bread, ketika itulah tiba-tiba mixer rusak, akhirnya saya pun kembali pada pengocok telur model lama. Yang membuat saya tidak bisa mengocok telur sampai mengembang betul. Karena capek juga. Jadi ketika punya pisang matang lagi, saya mengulang percobaan membuat banana bread. Asal kocok saja, pisangnya juga belum kematangan. Akibatnya tidak bisa hancur benar. Hasilnya, kue yang teksturnya kasar…

Besoknya mencoba lagi. kali ini berusaha lebih telaten mengocok telurnya, sampai warnanya putih. Pisangnya pun lebih halus. Waktu hampir matang, aduuuh baunya… harum sekali! Memenuhi dapur. Kali ini saya pakai loyang yang lebih kecil, jadinya kuenya nampak lebih tinggi. Yang kali ini bukan hanya harumnya yang menggoda, tapi juga teksturnya lebih lembut. Berongga-rongga seperti umumnya cake. Rasanya? Enak sekali….

Setiap percobaan ada fotonya, tapi tidak sampai hati saya untuk memuatnya di sini, kecuali yang satu ini. Karena hanya akan membangkitkan kenangan yang bisa merusak semangat dan memberatkan hari-hari yang akan datang saja J dan lagi repot kan upload terlalu banyak foto? Yang ini hasil percobaan terakhir. Tidak sabar menunggu dingin sudah keburu dipotong, ditambah pisaunya kurang tajam. Jadinya hancur begitu.

Terlepas dari penampilannya yang kurang appealing, inilah resep yang sekarang saya yakini paling baik, maksudnya yang kalau saya bikin pasti berhasil…

Resep cake pisang
Bahannya :
-        3 buah pisang masak (setelah saya coba, pisang apa saja enak, asal masak)
-        2 cangkir tepung terigu
-        2 butir telur
-        1 kuning telur
-        ¾ cangkir mentega dicairkan
-        ¾ gula pasir
-        3 sdm susu coklat kental manis
-        ½ sdt Soda kue
-        ½ sdt Kayu manis bubuk
-        Garam (optional)

Caranya :
1.  Siapkan loyang, olesi dengan mentega, taburi tepung
2.  Panaskan oven (saya tidak bisa menjelaskan berapa suhunya, saya cuma pakai panci serbaguna, dipanggang di atas kompor dengan api sedang sekitar 45 menit)
3.  Pisang dihancurkan sampai halus, tambahkan susu coklat dan mentega cair, sisihkan.
4.  Kocok telur dan gula sampai mengembang
5.  Tambahkan tepung, soda, kayu manis, dan garam ke dalam kocokan telur. Aduk rata.
6.  Aduk dengan pisang hingga rata.
7.  Masukkan ke dalam Loyang. Panggang sampai matang

Nah, tidak jujur kalau cuma menunjukkan hasil uji coba sendiri seolah-olah itu hasil kerja saya sendiri. Ini contekannya htttps://plus.google.com/+YahiyaMv/posts/6yFSEtNV7PM
Tidak persis benar, karena punya saya sudah melalui berbagai penyesuaian.

Agustus, 2016

Tuesday, 20 October 2015

Moringa oleifera

Ungkapan 'dunia tak seluas daun kelor,  membuat hampir semua orang  pernah mendengar daun kelor, meski tidak berarti bahwa kemudian mereka tahu seperti apa bentuknya. Dulu saya kira daun kelor itu kecil sekali, sampai-sampai dibuat sebagai perumpamaan mengenai luasnya dunia. Begitu saya mengetahui sebesar apa daunnya, jadi terpikir kenapa daun kelor yang dipakai sebagai  perumpamaan, kenapa tidak 'dunia tak selebar daun meniran' atau dunia tak selebar daun putri malu'. Kedua daun itu ukurannya lebih kecil dari daun kelor…

Hal kedua yang melekat padanya adalah daun kelor  berfungsi untuk merontokkan jimat, susuk, dan sebagainya. Kalau ada orang yang mendekati ajal namun susah sekali matinya,  katanya itu karena di tubuh mereka masih ada jimat atau susuk atau punya ilmu -sipat kandel- yang belum dilepas. sehingga raganya tidak mau kalah,  meski harusnya sudah mati tapi raganya masih tetap berkeras untuk survive. Untuk merontokkan semua itu dipakailah daun kelor. Saya sendiri belum pernah melihat bagaimana caranya, apakah air rebusannya diminumkan, atau apakah daun-daunnya dipukul-pukulkan pada bagian yang mengandung jimat -terus terang adegan ini yang selalu saya bayangkan berhubungan dengan ritual merontokkan jimat ini- atau daunnya ditumbuk lalu dioleskan di bagian tubuh yang berjimat itu.

Masuk dalam suku moringaceae, kelor berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 11 meter, kulit kayunya berwarna putih keabuan. Kalau dia pendek menyerupai semak, besar kemungkinannya karena pemiliknya terlalu rajin memangkasnya untuk dijadikan bahan sayur. Daunnya berbentuk bulat telur, tersusun majemuk dalam satu tangkai. Kalau susah membayangkan dari deskripsi ini maka kukatakan saja bahwa bentuk dan susunan daun kelor itu mirip dengan daun lamtoro (Leucaena leucocephala), daun sengon (Albizia falcataria), daun kaliandra (Calliandra calothyrsus), atau daun petai (Parkia speciosa). Beda warna, ukuran, dan bentuknya saja. Bunganya berwarna putih kekuningan, namanya dalam bahasa Jawa limaran. Ada motif kain batik limaran, mungkin terinspirasi oleh bunga-bunga kelor ini. Nama istri Panji ketika menyamar saat mencari-cari suaminya (kenapa suaminya suka menghilang-hilang ya?) juga Dewi Limaran. Jadi sebenarnya meski kelor diyakini berasal dari daerah di sekitar Himalaya, sebenarnya tanaman ini juga sudah sangat akrab dengan masyarakat Jawa. 

Di berbagai daerah pedesaan, daun kelor sangat umum dijadikan sayur, juga buahnya yang panjang, yang di jawa disebut klenthang. Biasanya disayur bening atau disayur asam dengan tambahan cabe rawit, sehingga rasanya asam-asam pedas, sangat segar di kala panas kemarau. Dibumbui bawang merah, cabe merah, cabe rawit, kemiri, terasi, daun salam, lengkuas, asam jawa, dan garam. Jangan pula meremehkan daun kelor, meski murah dan mudah didapat di pagar tetangga, namun kelor mengandung vitamin A dan vitamin C yang cukup tinggi. Pengobatan ayurvedic menyebutkan jika kita memiliki kelor di halaman  rumah kita memiliki obat untuk segala macam penyakit. Kelor juga bermanfaat untuk menyembuhkan  panas dalam, sariawan, rambut rontok dan berketombe. Di tempat asalnya tumbuhan ini juga dimanfaatkan sebagai pangan dan obat dan banyak dibudidayakan, juga dalam skala besar dalam era ini. Karena manfaatnya yang luar biasa juga sudah diteliti dengan cara-cara ilmiah, tak mengherankan jika kelor juga sudah masuk dalam industri untuk dijadikan salah satu barang jualan berharga. Ada bermacam kapsul berbahan kelor yang menawarkan kesembuhan dan kebugaran bagi mereka yang berpenyakit, lemah lesu, dan terobsesi kepada kesehatan. kelor juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik.

Kelor adalah nama yang dipakai di masyarakat Jawa. Nama latin yang paling sering dijumpai adalah Moringa oleifera, oleifera artinya oily, mengandung minyak, ada juga sinonimnya, Guillandina moringa L, dan Hyperanthera moringa  L. Nama latin ini justru terdengar lebih mirip dengan nama melayunya, merunggai, dan juga nama maduranya, meronggih. Konon nama moringa berasal dari nama Tamilnya, murungai. Mengingat bahwa di oindia dan sekitarnya kelor termasuk tumbuhan yang sangat banyak digunakan, maka kemungkinan para pendatang dari Tamil, India, dan sebagainya yang kemudian mengilhami nama merunggai dan meronggih ini. kalau orang Jawa menyebutnya kelor, entah itu dari mana asalnya....