blog ini ditulis berdua, oleh nining dan nisa, setelah melihat begitu kompleksnya percakapan kami
Friday, 7 October 2016
Monday, 29 August 2016
Ranu Pani dan Ranu regulo
Jum’at, 15 April 2016,
akhirnya berangkat juga ke Ranu Kumbolo. Obsesi sesungguhnya adalah Mahameru,
tapi setelah bercermin tahu diri juga, jadi target diturunkan menjadi Ranu
Kumbolo saja. Lagi pula persiapannya kurang, karena perginya mendadak. Inilah perjalanan
itu….
![]() |
| Ranu Regulo (Photo : MCU) |
Kenikmatan melihat-lihat itu akhirnya terputus setelah jalan
yang mulus itu berakhir. Selanjutnya adalah bekas jalan beraspal yang tinggal
batunya sehingga mirip sungai yang airnya mengering. Di beberapa titik masih
ada aspal yang tersisa, ada juga yang diganti dengan beton, namun putus-putus,
entah apa sebab dan maksudnya. Di penghujungnya bahkan ada kolam-kolam besar di
tengah jalan. Namun setelah melihat atap sebuah bangunan hilang semua sudah
kekhawatiran akan jatuh. Sampailah kami di Ranu Pani, yang bukan hanya nama
sebuah danau, namun juga nama desa itu sendiri. Salah satu desa tempat tinggal
keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger. Yang pertama kami lihat adalah
lahan-lahan pertanian yang ditanami sayuran, dengan kemiringan tidak masuk
akal, seperti juga di daerah dekat Bromo. Jika melihat para petani itu bekerja
aku membayangkan mereka harus dilem kakinya di permukaan tanah, jika tidak
gravitasi akan menarik mereka sehingga mereka jatuh menggelinding ke bawah.
Atau mereka harus berpegangan pada tali… meski senyatanya tidak begitu. Pada
lereng-lereng yang tinggi pun ada tanamannya. Aku akan kehabisan nafas setelah
berjalan menuju ladang dan tidak kuat bekerja setelahnya jika aku punya ladang
di situ.
Daerah yang dingin ini sejak dulu telah terkenal sebagai
penghasil sayuran. Kentang, wortel, kubis, bawang putih, bawang daun, adalah
hasil yang utama dari petani-petani Tengger. Saat kami berkunjung yang nampak
paling banyak mengisi ladang-ladang miring itu adalah bawang daun, tidak banyak
nampak tanaman lain. Mungkin ada hubungannya dengan musim.
![]() |
| ladang sayuran (photo : nining) |
![]() |
| Desa Ranu Pani di seberang danau (photo : Nining) |
Karena harus melaporkan diri jika mau naik maka kami mencari
pos taman nasional. Kami sudah siap dengan surat keterangan sehat, fotocopy
kartu identitas, juga materai untuk membuat surat pernyataan. Pos tersebut
terletak tidak jauh dari danau. Seorang gadis yang ternyata adalah relawan di
pos itu menemui kami, menjelaskan bahwa Ranu Kumbolo dan Mahameru ditutup! Ia
lalu memanggil petugas lain yang lebih senior, seorang laki-laki, yang kemudian
menjelaskan bahwa setiap tahunnya jalur pendakian ditutup selama tiga bulan,
antara bulan Januari hingga April, untuk pemulihan kawasan konservasi. Catat
noh…. Kemungkinan seminggu lagi sudah buka, selambat-lambatnya awal Mei. Patah
semangat. Akhirnya kami duduk-duduk di teras pos, melihat kiri kanan,
bertanya-tanya, membaca informasi yang ditempel-tempel, dan berfoto foto.
Mereka lalu menyarankan kami melihat-lihat Ranu Regulo yang terletak sekitar
300 meter dari Ranu Pani. Informasinya bisa juga berkemah di Ranu Regulo.
Apalagi Ranu Regulo jauh lebih bersih kondisinya jika dibanding Ranu Pani. Tapi
kalau harus menginap aku memilih tidur di pendopo TNBTS yang luas dan bersih.
Ada atapnya, hujan tidak akan mengganggu kami, toilet berjejer-jejer di dekat
situ. tinggal masuk ke sleeping bag saja. Di samping pendopo ada edelweiss,
sedang berbunga. Aku penasaran ingin tahu boleh tidak dipetik, teman-temanku
bilang tidak boleh, tapi menurutku boleh, ini kan hasil budidaya…
Akhirnya kami pergi mengunjungi toko souvenir di depan pos.
Bermacam-macam barang yang disediakan di situ. Perlengkapan hiking. Kaos yang
ada petanya, sepatu gunung, sleeping bag, jaket, kaos tangan, kalau kita
kelewatan membawa bisa membeli dulu. Stiker, gantungan kunci, dan pernik-pernik
kecil juga ada, untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Kami mengobrol dengan pemilik
toko. Sepasang suami istri yang asalnya dari Tumpang. Hanya satu toko itu yang
buka, karena memang sepi. Namun petugas taman nasional bilang tadi juga ada
rombongan yang bernasib seperti kami, semobil…
Sama dengan petugas taman nasional suami istri itu pun
menyarankan kami untuk mengunjungi Ranu Regulo. Mereka berbaik hati menawarkan
menitipkan barang bawaan di tokonya. Akhirnya kami pun berjalan turun tanpa
direpotkan oleh ransel berat, lewat di sisi kanan Ranu Pani menuju Ranu Regulo.
Ada jalan berpaving menuju ke Ranu Regulo. Di situ juga banyak bangunan,
kemungkinan pondok-pondok untuk pendaki. Namun semua tutup. Dari banner-banner
yang terpasang nampaknya banyak sekali kegiatan yang diadakan di tempat ini di
hari-hari ketika jalur pendakian tidak ditutup.
| Iresine herbstii, crocosmia, dan oxeye daisy (photo : nisa) |
| Verbena brasiliensis, calla lily, dan sejenis lobak (photo : nisa) |
yang banyak sekali terdapat di sana.
![]() |
| makaaan... (photo : MCU) |
Sampai jumpa Ranu Pani… suatu saat kami akan kembali, bukan
di bulan Januari – Mei, untuk sampai di Ranu Kumbolo seperti cita-cita yang
sudah lama kami pancangkan….
Saturday, 27 August 2016
THE QUEST FOR THE BEST BANANA BREAD RECIPE
Terhitung semenjak bulan puasa tahun ini,
saya terjangkit penyakit baru, jika itu bisa disebut penyakit. Yang saya maksud
adalah keranjingan membuat kue. Ini baru. Karena meski saya bisa memasak tanpa
pernah berupaya belajar, saya selalu merasa tahu bahwa saya tidak bisa dan akan
selalu gagal membuat kue, apapun, bahkan jenis yang paling umum seperti pisang
goreng.
Tetapi, menyadari
bahwa tukang kue tempat saya memesan kue lebaran tahun lalu sudah pindah dan saya
tidak bisa menyandarkan harapan saya padanya, maka saya pun memikirkan kue apa
kira-kira yang paling mudah dibuat. Mengingat saya juga tidak tega membiarkan
meja ruang tamu kosong tanpa kue saat lebaran. Meski saya juga tidak
sungguh-sungguh berniat membuat banyak kue, hanya sekedar agar pantas saja. Dan
lagi, begitu membuat iri setiap ada teman memposting foto kue hasil karyanya…
Pilihan jatuh pada
kastengel. Tidak perlu mencetak satu per satu, jadi pasti cepat dan tidak ruwet.
Akhirnya setelah browsing resep-resep, yang jumlahnya ternyata ratusan untuk
satu jenis kue saja, saya pun memilih satu. Itu pun masih diotak-atik agar
sesuai dengan budget, peralatan, ketersediaan bahan, dan kemampuan saya. Ajaib…
kuenya jadi! Benar-benar seperti kastengel yang saya bayangkan. Maka saya pun
punya dua toples kastengel nan lezat.
Kepercayaan diri pun
akhirnya meningkat. Setelah lebaran, ada banyak sekali pisang matang, yang
tidak segera termakan. Maka terpikirlah untuk menjadikannya bolu pisang. Mengulang
cara yang sama, browing resep dulu di internet. Dan menemukan ratusan resep
bolu pisang. Ada yang dikukus, ada yang dipanggang. Dicetak kecil-kecil maupun
di dipanggang di loyang besar. Ada yang kotak ada yang bundar. Ada yang pakai
tepung terigu ada juga yang pakai tepung beras. Ada yang menyarankan memakai butter, ada yang menyarankan pakai
margarine, (banyak yang dengan vulgar menyebut merk juga…), ada juga yang pakai
minyak goreng. Ada yang pakai pengembang kue ada yang tidak. Bingung juga
memilihnya. Akhirnya memilih satu resep yang tidak pakai telur dan tidak pakai
terigu. Mengingat gandum itu barang impor yang sangat mempengaruhi neraca
dagang negara. Hasilnya… jadi kue, tapi keras, dan terlalu manis. Makan
sepotong kecil saja sudah mblenger…
karena manisnya.
Tidak puas dan jadi
penasaran. Besoknya bikin lagi. Gulanya dikurangi. Jadinya lebih bisa diterima
lidah. Tapi tetap keras. Padahal di resepnya dikatakan hasilnya moist. Mungkin harusnya dikukus seperti
membuat apem. Percobaan ketiga dilakukan setelah mencari lagi dengan lebih
teliti. Mampirlah saya di sebuah blog yang sangat meyakinkan. Ada penjelasannya
mengapa dan bagaimana sesuatu harus dilakukan. Misalnya adonan tidak boleh
dipegang tangan, karena panasnya tangan akan berpengaruh pada adonan, misalnya
lagi bagaimana arah mengaduk yang benar. Ada juga foto-fotonya step by step. Saya pun dengan sangat
bersemangat mengikutinya, meski tidak pakai bahan yang sama persis. Karena
bahan yang disebutkan di resep itu tidak dapat ditemukan di toko maupun pasar
dekat rumah. Hanya pisangnya saja yang berlimpah. Yang ini pakai terigu,
mengabaikan soal neraca dagang negara dan kedaulatan pangan. Setelah mengikuti
langkah demi langkah dengan sangat teliti akhirnya kue pun matang. Ooooh…
mengecewakan hasilnya. Bisa sih dimakan, tapi penampilannya sungguh
mengenaskan. Sedangkan di blog itu ditunjukkan kue yang mengembang dan
berongga-rongga serupa rumah semut, punya saya padat dan bantat. Juga tidak
terasa benar kalau itu ada pisangnya.
Semua resep hanya
menggunakan tiga atau empat pisang, jadi persediaan pisang pun lambat habisnya.
Pada saat itulah saya melihat di food making GIF di Google+, cara membuat kue
pisang yang nampaknya sangat mudah. Tidak pakai menimbang-nimbang bahan-bahan,
pakai cangkir saja menakarnya, tidak perlu dimixer sampai benar-benar putih dan
mengembang. Dengan keputusan bahwa ini adalah percobaan terakhir, kalau gagal
saya akan berhenti. Dibandingkan tiga percobaan sebelumnya yang keempat ini
dilakukan carelessly. Setelah diaduk
semua, dimasukkan loyang, lalu dioven. Ketika sudah lewat setengah jam, karena
penasaran, mencoba mengintip. Aaah... nampaknya mengembang. Waktu kue matang
rasanya hati senang. Berbeda dengan yang sebelumnya yang ini lebih mirip kue di
buku-buku resep. Mengembang, lembut, tidak bantat, meski agak gosong, karena
tidak yakin kalau sudah matang, jadi tidak segera diangkat. Indikator
keberhasilan lainnya adalah : dalam waktu relatif singkat kuenya habis!
Hanya saja, setelah
semua percobaan itu, saya masih terus penasaran dan tidak berhenti mencari-cari
resep yang lebih mudah. Kemudian saya mulai mengganti kata kunci pencarian dari
bolu pisang atau cake pisang menjadi banana
bread recipes. Ternyata banyak yang lebih sederhana. Beberapa telah saya
simpan, cuma belum dicoba, menunggu pisang di kebun matang terlebih dahulu.
Lalu ketika tidak
punya pisang saya beralih membuat pumpkin
bread, ketika itulah tiba-tiba mixer rusak, akhirnya saya pun kembali pada
pengocok telur model lama. Yang membuat saya tidak bisa mengocok telur sampai
mengembang betul. Karena capek juga. Jadi ketika punya pisang matang lagi, saya
mengulang percobaan membuat banana bread.
Asal kocok saja, pisangnya juga belum kematangan. Akibatnya tidak bisa hancur
benar. Hasilnya, kue yang teksturnya kasar…
Besoknya mencoba
lagi. kali ini berusaha lebih telaten mengocok telurnya, sampai warnanya putih.
Pisangnya pun lebih halus. Waktu hampir matang, aduuuh baunya… harum sekali!
Memenuhi dapur. Kali ini saya pakai loyang yang lebih kecil, jadinya kuenya
nampak lebih tinggi. Yang kali ini bukan hanya harumnya yang menggoda, tapi
juga teksturnya lebih lembut. Berongga-rongga seperti umumnya cake. Rasanya?
Enak sekali….
Setiap percobaan ada fotonya, tapi tidak
sampai hati saya untuk memuatnya di sini, kecuali yang satu ini. Karena hanya
akan membangkitkan kenangan yang bisa merusak semangat dan memberatkan
hari-hari yang akan datang saja J dan lagi repot kan upload terlalu banyak
foto? Yang ini hasil percobaan terakhir. Tidak sabar menunggu dingin sudah
keburu dipotong, ditambah pisaunya kurang tajam. Jadinya hancur begitu.
Terlepas dari
penampilannya yang kurang appealing,
inilah resep yang sekarang saya yakini paling baik, maksudnya yang kalau saya
bikin pasti berhasil…
Resep cake pisang
Bahannya :
-
3 buah
pisang masak (setelah saya coba, pisang apa saja enak, asal masak)
-
2
cangkir tepung terigu
-
2 butir
telur
-
1 kuning
telur
-
¾
cangkir mentega dicairkan
-
¾ gula
pasir
-
3 sdm
susu coklat kental manis
-
½ sdt
Soda kue
-
½ sdt
Kayu manis bubuk
-
Garam
(optional)
Caranya :
1. Siapkan loyang, olesi dengan mentega, taburi
tepung
2. Panaskan oven (saya tidak bisa menjelaskan
berapa suhunya, saya cuma pakai panci serbaguna, dipanggang di atas kompor dengan
api sedang sekitar 45 menit)
3. Pisang dihancurkan sampai halus, tambahkan
susu coklat dan mentega cair, sisihkan.
4. Kocok telur dan gula sampai mengembang
5. Tambahkan tepung, soda, kayu manis, dan garam
ke dalam kocokan telur. Aduk rata.
6. Aduk dengan pisang hingga rata.
7. Masukkan ke dalam Loyang. Panggang sampai
matang
Nah, tidak jujur
kalau cuma menunjukkan hasil uji coba sendiri seolah-olah itu hasil kerja saya
sendiri. Ini contekannya htttps://plus.google.com/+YahiyaMv/posts/6yFSEtNV7PM
Tidak persis benar,
karena punya saya sudah melalui berbagai penyesuaian.
Agustus, 2016
Tuesday, 20 October 2015
Moringa oleifera
Ungkapan 'dunia tak
seluas daun kelor, membuat hampir semua
orang pernah mendengar daun kelor, meski
tidak berarti bahwa kemudian mereka tahu seperti apa bentuknya. Dulu saya kira
daun kelor itu kecil sekali, sampai-sampai dibuat sebagai perumpamaan mengenai
luasnya dunia. Begitu saya mengetahui sebesar apa daunnya, jadi terpikir kenapa
daun kelor yang dipakai sebagai
perumpamaan, kenapa tidak 'dunia tak selebar daun meniran' atau dunia
tak selebar daun putri malu'. Kedua daun itu ukurannya lebih kecil dari daun
kelor…
Hal kedua yang
melekat padanya adalah daun kelor
berfungsi untuk merontokkan jimat, susuk, dan sebagainya. Kalau ada
orang yang mendekati ajal namun susah sekali matinya, katanya itu karena di tubuh mereka masih ada
jimat atau susuk atau punya ilmu -sipat kandel- yang belum dilepas. sehingga raganya tidak mau kalah, meski harusnya sudah mati tapi raganya masih tetap berkeras untuk survive. Untuk merontokkan semua
itu dipakailah daun kelor. Saya sendiri belum pernah melihat bagaimana caranya,
apakah air rebusannya diminumkan, atau apakah daun-daunnya dipukul-pukulkan
pada bagian yang mengandung jimat -terus terang adegan ini yang selalu saya
bayangkan berhubungan dengan ritual merontokkan jimat ini- atau daunnya
ditumbuk lalu dioleskan di bagian tubuh yang berjimat itu.
Masuk dalam suku moringaceae, kelor berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 11 meter, kulit kayunya berwarna putih keabuan. Kalau dia pendek menyerupai semak, besar kemungkinannya karena pemiliknya terlalu rajin memangkasnya untuk dijadikan bahan sayur. Daunnya berbentuk bulat telur, tersusun majemuk dalam satu tangkai. Kalau susah membayangkan dari deskripsi ini maka kukatakan saja bahwa bentuk dan susunan daun kelor itu mirip dengan daun lamtoro (Leucaena leucocephala), daun sengon (Albizia falcataria), daun kaliandra (Calliandra calothyrsus), atau daun petai (Parkia speciosa). Beda warna, ukuran, dan bentuknya saja. Bunganya berwarna putih kekuningan, namanya dalam bahasa Jawa limaran. Ada motif kain batik limaran, mungkin terinspirasi oleh bunga-bunga kelor ini. Nama istri Panji ketika menyamar saat mencari-cari suaminya (kenapa suaminya suka menghilang-hilang ya?) juga Dewi Limaran. Jadi sebenarnya meski kelor diyakini berasal dari daerah di sekitar Himalaya, sebenarnya tanaman ini juga sudah sangat akrab dengan masyarakat Jawa.
Di berbagai daerah
pedesaan, daun kelor sangat umum dijadikan sayur, juga buahnya yang panjang, yang di jawa disebut klenthang.
Biasanya disayur bening atau disayur asam dengan tambahan cabe rawit, sehingga
rasanya asam-asam pedas, sangat segar di kala panas kemarau. Dibumbui bawang merah, cabe merah, cabe rawit, kemiri, terasi, daun salam, lengkuas, asam jawa, dan garam. Jangan pula meremehkan
daun kelor, meski murah dan mudah didapat di pagar tetangga, namun kelor
mengandung vitamin A dan vitamin C yang cukup tinggi. Pengobatan ayurvedic
menyebutkan jika kita memiliki kelor di halaman
rumah kita memiliki obat untuk segala macam penyakit. Kelor juga bermanfaat
untuk menyembuhkan panas dalam,
sariawan, rambut rontok dan berketombe. Di tempat asalnya tumbuhan ini juga dimanfaatkan sebagai pangan dan obat dan banyak dibudidayakan, juga dalam skala besar dalam era ini. Karena manfaatnya yang luar biasa juga sudah diteliti dengan cara-cara ilmiah, tak mengherankan jika kelor juga sudah masuk dalam industri untuk dijadikan salah satu barang jualan berharga. Ada bermacam kapsul berbahan kelor yang menawarkan kesembuhan dan kebugaran bagi mereka yang berpenyakit, lemah lesu, dan terobsesi kepada kesehatan. kelor juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik.
Kelor adalah nama yang dipakai di masyarakat Jawa. Nama latin yang paling sering dijumpai adalah Moringa oleifera, oleifera artinya oily, mengandung minyak, ada juga sinonimnya, Guillandina moringa L, dan Hyperanthera moringa L. Nama latin ini justru terdengar lebih mirip dengan nama melayunya, merunggai, dan juga nama maduranya, meronggih. Konon nama moringa berasal dari nama Tamilnya, murungai. Mengingat bahwa di oindia dan sekitarnya kelor termasuk tumbuhan yang sangat banyak digunakan, maka kemungkinan para pendatang dari Tamil, India, dan sebagainya yang kemudian mengilhami nama merunggai dan meronggih ini. kalau orang Jawa menyebutnya kelor, entah itu dari mana asalnya....
Bagaimana Jika Orang-Orang Kerasukan semua?
Orang-orang
mencurahkan banyak hal di sosial media. Kurasa mereka terikat cukup kuat secara
emosional dengan sosmed. Ini mengingatkanku pada kedekatan Ginny dengan diary Tom Riddle yang ternyata adalah salah satu horcrux Lord Voldemort. Ginny yang
mencurahkan hati dan jiwanya pada diary itu ternyata telah memberikan kekuatan
untuk Voldemort bangkit lagi dan mendapatkan wujudnya. Dari apa yang dibaca Hermione dari buku yang diambilnya dari kantor Dumbledore menggunakan
summonning charm, orang yang terlalu dekat dengan horcrux (secara emosional)
akan terpengaruh oleh horcrux tersebut. Dalam kasus Ginny, dia beberapa kali
mengalami kerasukan (possesed itu
kerasukan kah?). Dan dalam kondisi tak sadar itu Ginny melakukan berbagai hal
yang didiktekan Voldemort, seperti membunuh ayam-ayam jantan Hagrid dan
menuliskan ancaman di dinding (jika ada lagi yang dilakukan Ginny saat
kerasukan, aku lupa apa saja itu).
Okay, where am I?oh
ya, soal social media tentu saja… aku berharap bahwa facebook dan twitter
bukanlah horcrux. Jika Ginny yang cuma satu orang saja dapat membahayakan
seluruh Hogwarts dengan membuka chamber of secret maka bayangkanlah apa yang
terjadi jika ratusan juta orang yang mencurahkan hati dan jiwanya kepada
fb kerasukan dan melakukan hal-hal di
luar kendali diri mereka…. dunia akan guncang tak keruan.
Padahal, aku baru
menyadari, bahwa di luar teman-teman yang ku add menjadi friends di fb dengan
sangat selektif itu masih ada banyaaaaak sekali orang yang menggunakan fb.
Waktu itu, aku sempat terperangah karena salah seorang pak RT tetanggaku yang
kutahu dan kukira tidak akan berhubungan dengan teknologi ternyata juga ber
fb….
(ditulis sekitar jam 10 pagi, tanggal 8 januari 2015 di meja makan Eri yang baru.
Di tengah-tengah kegiatan menulis TOR untuk
pendidikan NF. Rumah Eri sepi senyap, penghuninya pergi semua)
Saturday, 19 April 2014
randu
Randu berbunga saat
kemarau, dan saat-saat itu adalah saat-saat terdingin sepanjang tahun, bediding kata orang Jawa. Saat itu pula
randu menggugurkan daun-daunnya –yang juga diberi nama oleh orang Jawa, baladewa- hingga batangnya nampak
telanjang hanya berhias bunga-bunganya –ada namanya juga menurut orang jawa, karuk.. Daun-
daun itu baru akan tumbuh lagi saat
buah-buahnya sudah tua dan mulai mengering. Bersama dengan randu, jati dan
kamboja juga meranggas, mengantisipasi musim yang akan sangat kering, tak ingin
menyia-nyiakan air lebih banyak. tetapi saat-saat itu justru mangga sibuk
berbunga dan berbuah. Daun-daunnya pun tetap lebat dan hijau.
Daun randu mirip dengan daun singkong (Manihot
utilissima). Daun mereka sama-sama berbentuk daun yang digolongkan palmatelly compound leaves. Tetapi mereka
tidak sekeluarga, randu dimasukkan ke dalam famili bombacaceae, sedang singkong
dimasukkan ke dalam famili euphorbiaceae. Di
sini ada foto pohon randu, daun randu, dan daun randu bersanding dengan
daun singkong. Mari kita cari perbedaan dan persamaan antara daun randu dan
daun singkong berdasarkan foto di sini….
Tidak hanya serat kapuk yang dimanfaatkan.
Bagian-bagian lain juga berguna. Bijinya misalnya, dapat diperas minyaknya.
Minyak biji randu dipakai untuk bahan membuat sabun, juga bisa untuk memasak. Minyak
biji randu termasuk minyak nonkolesterol. Dijadikan bahan bakar untuk pelita
pun bisa. Ampas perasan minyaknya digunakan juga untuk pakan ternak ruminansia.
Ternak, khususnya kambing, juga bisa disuguhi daun randu. Kayu randu ringan dan
empuk (maksudnya bukan seempuk pisang matang tapi tidak sekeras kayu jati atau
sono keling atau mahoni), biasa dipakai untuk bahan bakiak alias sandal kayu.
Ternyata, daun, bunga, dan buah randu muda di kalangan masyarakat tertentu juga
merupakan bahan pangan…
Subscribe to:
Posts (Atom)








.jpg)
.jpg)
.jpg)