Tuesday, 20 October 2015

Moringa oleifera

Ungkapan 'dunia tak seluas daun kelor,  membuat hampir semua orang  pernah mendengar daun kelor, meski tidak berarti bahwa kemudian mereka tahu seperti apa bentuknya. Dulu saya kira daun kelor itu kecil sekali, sampai-sampai dibuat sebagai perumpamaan mengenai luasnya dunia. Begitu saya mengetahui sebesar apa daunnya, jadi terpikir kenapa daun kelor yang dipakai sebagai  perumpamaan, kenapa tidak 'dunia tak selebar daun meniran' atau dunia tak selebar daun putri malu'. Kedua daun itu ukurannya lebih kecil dari daun kelor…

Hal kedua yang melekat padanya adalah daun kelor  berfungsi untuk merontokkan jimat, susuk, dan sebagainya. Kalau ada orang yang mendekati ajal namun susah sekali matinya,  katanya itu karena di tubuh mereka masih ada jimat atau susuk atau punya ilmu -sipat kandel- yang belum dilepas. sehingga raganya tidak mau kalah,  meski harusnya sudah mati tapi raganya masih tetap berkeras untuk survive. Untuk merontokkan semua itu dipakailah daun kelor. Saya sendiri belum pernah melihat bagaimana caranya, apakah air rebusannya diminumkan, atau apakah daun-daunnya dipukul-pukulkan pada bagian yang mengandung jimat -terus terang adegan ini yang selalu saya bayangkan berhubungan dengan ritual merontokkan jimat ini- atau daunnya ditumbuk lalu dioleskan di bagian tubuh yang berjimat itu.

Masuk dalam suku moringaceae, kelor berupa pohon yang tingginya dapat mencapai 11 meter, kulit kayunya berwarna putih keabuan. Kalau dia pendek menyerupai semak, besar kemungkinannya karena pemiliknya terlalu rajin memangkasnya untuk dijadikan bahan sayur. Daunnya berbentuk bulat telur, tersusun majemuk dalam satu tangkai. Kalau susah membayangkan dari deskripsi ini maka kukatakan saja bahwa bentuk dan susunan daun kelor itu mirip dengan daun lamtoro (Leucaena leucocephala), daun sengon (Albizia falcataria), daun kaliandra (Calliandra calothyrsus), atau daun petai (Parkia speciosa). Beda warna, ukuran, dan bentuknya saja. Bunganya berwarna putih kekuningan, namanya dalam bahasa Jawa limaran. Ada motif kain batik limaran, mungkin terinspirasi oleh bunga-bunga kelor ini. Nama istri Panji ketika menyamar saat mencari-cari suaminya (kenapa suaminya suka menghilang-hilang ya?) juga Dewi Limaran. Jadi sebenarnya meski kelor diyakini berasal dari daerah di sekitar Himalaya, sebenarnya tanaman ini juga sudah sangat akrab dengan masyarakat Jawa. 

Di berbagai daerah pedesaan, daun kelor sangat umum dijadikan sayur, juga buahnya yang panjang, yang di jawa disebut klenthang. Biasanya disayur bening atau disayur asam dengan tambahan cabe rawit, sehingga rasanya asam-asam pedas, sangat segar di kala panas kemarau. Dibumbui bawang merah, cabe merah, cabe rawit, kemiri, terasi, daun salam, lengkuas, asam jawa, dan garam. Jangan pula meremehkan daun kelor, meski murah dan mudah didapat di pagar tetangga, namun kelor mengandung vitamin A dan vitamin C yang cukup tinggi. Pengobatan ayurvedic menyebutkan jika kita memiliki kelor di halaman  rumah kita memiliki obat untuk segala macam penyakit. Kelor juga bermanfaat untuk menyembuhkan  panas dalam, sariawan, rambut rontok dan berketombe. Di tempat asalnya tumbuhan ini juga dimanfaatkan sebagai pangan dan obat dan banyak dibudidayakan, juga dalam skala besar dalam era ini. Karena manfaatnya yang luar biasa juga sudah diteliti dengan cara-cara ilmiah, tak mengherankan jika kelor juga sudah masuk dalam industri untuk dijadikan salah satu barang jualan berharga. Ada bermacam kapsul berbahan kelor yang menawarkan kesembuhan dan kebugaran bagi mereka yang berpenyakit, lemah lesu, dan terobsesi kepada kesehatan. kelor juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik.

Kelor adalah nama yang dipakai di masyarakat Jawa. Nama latin yang paling sering dijumpai adalah Moringa oleifera, oleifera artinya oily, mengandung minyak, ada juga sinonimnya, Guillandina moringa L, dan Hyperanthera moringa  L. Nama latin ini justru terdengar lebih mirip dengan nama melayunya, merunggai, dan juga nama maduranya, meronggih. Konon nama moringa berasal dari nama Tamilnya, murungai. Mengingat bahwa di oindia dan sekitarnya kelor termasuk tumbuhan yang sangat banyak digunakan, maka kemungkinan para pendatang dari Tamil, India, dan sebagainya yang kemudian mengilhami nama merunggai dan meronggih ini. kalau orang Jawa menyebutnya kelor, entah itu dari mana asalnya....

Bagaimana Jika Orang-Orang Kerasukan semua?

Orang-orang mencurahkan banyak hal di sosial media. Kurasa mereka terikat cukup kuat secara emosional dengan sosmed. Ini mengingatkanku pada kedekatan Ginny dengan diary Tom Riddle yang ternyata adalah salah satu horcrux Lord Voldemort. Ginny yang mencurahkan hati dan jiwanya pada diary itu ternyata telah memberikan kekuatan untuk Voldemort bangkit lagi dan mendapatkan wujudnya. Dari apa yang dibaca Hermione dari buku yang diambilnya dari kantor Dumbledore menggunakan summonning charm, orang yang terlalu dekat dengan horcrux (secara emosional) akan terpengaruh oleh horcrux tersebut. Dalam kasus Ginny, dia beberapa kali mengalami  kerasukan (possesed itu kerasukan kah?). Dan dalam kondisi tak sadar itu Ginny melakukan berbagai hal yang didiktekan Voldemort, seperti membunuh ayam-ayam jantan Hagrid dan menuliskan ancaman di dinding (jika ada lagi yang dilakukan Ginny saat kerasukan, aku lupa apa saja itu).

Okay, where am I?oh ya, soal social media tentu saja… aku berharap bahwa facebook dan twitter bukanlah horcrux. Jika Ginny yang cuma satu orang saja dapat membahayakan seluruh Hogwarts dengan membuka chamber of secret maka bayangkanlah apa yang terjadi jika ratusan juta orang yang mencurahkan hati dan jiwanya kepada fb  kerasukan dan melakukan hal-hal di luar kendali diri mereka…. dunia akan guncang tak keruan.


Padahal, aku baru menyadari, bahwa di luar teman-teman yang ku add menjadi friends di fb dengan sangat selektif itu masih ada banyaaaaak sekali orang yang menggunakan fb. Waktu itu, aku sempat terperangah karena salah seorang pak RT tetanggaku yang kutahu dan kukira tidak akan berhubungan dengan teknologi ternyata juga ber fb…. 

(ditulis sekitar jam 10 pagi, tanggal 8 januari 2015 di meja makan Eri yang baru. Di tengah-tengah kegiatan menulis TOR untuk  pendidikan NF. Rumah Eri sepi senyap, penghuninya pergi semua)

Saturday, 19 April 2014

randu

Kapuk randu (Ceiba pentandra). Yang sudah tua warna kulit buahnya berubah dari hijau menjadi kecoklatan agak kekuningan, lalu menjadi coklat seperti tanah liat kering. Setelah itu jika dibiarkan di pohonnya kulitnya akan merekah menyembulkan kapuk putih lembut yang segera akan beterbangan menyebarkan biji-biji kecil bulat hitam –dalam bahasa Jawa disebut klentheng- dalam rangka melanjutkan tugasnya meneruskan keturunan. Jika dipanen, kapuk akan dipanen saat sudah tua tapi masih hijau. Lalu dijemur di halaman hingga kulitnya pecah, untuk kemudian kapuknya dipisahkan, bakal isi bantal, guling, dan kasur. Jaman-jaman ketika kasur bantal belum diisi bulu angsa, busa, dacron, atau silicon, kapuk adalah andalan para perajin kasur bantal. Dalam pandangan subyektif saya, kasur kapuk lebih enak ditiduri. Kestabilannya menjamin pinggang dan punggung tidak pegal-pegal saat bangun tidur. Bau harumnya ketika habis dijemur juga menyenangkan. Yang tidak senang dengan kasur kapuk biasanya adalah mereka yang menderita penyakit asma dan sesak napas. Karena debunya berpotensi memicu sesak yang amat menyiksa.

Randu berbunga saat kemarau, dan saat-saat itu adalah saat-saat terdingin sepanjang tahun, bediding kata orang Jawa. Saat itu pula randu menggugurkan daun-daunnya –yang juga diberi nama oleh orang Jawa, baladewa- hingga batangnya nampak telanjang hanya berhias bunga-bunganya –ada namanya juga menurut orang jawa, karuk.. Daun- daun itu baru akan tumbuh lagi saat buah-buahnya sudah tua dan mulai mengering. Bersama dengan randu, jati dan kamboja juga meranggas, mengantisipasi musim yang akan sangat kering, tak ingin menyia-nyiakan air lebih banyak. tetapi saat-saat itu justru mangga sibuk berbunga dan berbuah. Daun-daunnya pun tetap lebat dan hijau.

Daun randu mirip dengan daun singkong (Manihot utilissima). Daun mereka sama-sama berbentuk daun yang digolongkan palmatelly compound leaves. Tetapi mereka tidak sekeluarga, randu dimasukkan ke dalam famili bombacaceae, sedang singkong dimasukkan ke dalam famili euphorbiaceae. Di  sini ada foto pohon randu, daun randu, dan daun randu bersanding dengan daun singkong. Mari kita cari perbedaan dan persamaan antara daun randu dan daun singkong berdasarkan foto di sini….
Tidak hanya serat kapuk yang dimanfaatkan. Bagian-bagian lain juga berguna. Bijinya misalnya, dapat diperas minyaknya. Minyak biji randu dipakai untuk bahan membuat sabun, juga bisa untuk memasak. Minyak biji randu termasuk minyak nonkolesterol. Dijadikan bahan bakar untuk pelita pun bisa. Ampas perasan minyaknya digunakan juga untuk pakan ternak ruminansia. Ternak, khususnya kambing, juga bisa disuguhi daun randu. Kayu randu ringan dan empuk (maksudnya bukan seempuk pisang matang tapi tidak sekeras kayu jati atau sono keling atau mahoni), biasa dipakai untuk bahan bakiak alias sandal kayu. Ternyata, daun, bunga, dan buah randu muda di kalangan masyarakat tertentu juga merupakan bahan pangan…



Thursday, 6 June 2013

ayam di belakang rumahku


Jengkol

Pengetahuanku tentang  jengkol (Archidendron pauciflorum sinonim : A. jiringa, Pithecellobium jiringa, dan P. lobatum).bertambah. Selama ini aku hanya tahu bahwa jengkol adalah salah satu jenis makanan yang sangat berbau, seperti petai. Aku tidak memakannya karena prasangka buruk. Seperti halnya aku tidak doyan makan petai dan daging kambing, meski tidak pernah mencicipinya sehingga tidak tahu enak tidaknya, jauh-jauh aku sudah menganggap makanan-makanan tersebut baunya tidak enak. maka aku menjauhinya.

Mak Ani sedang panen jengkol waktu aku berkunjung. Banyak sekali jengkolnya, bertumpukan. dan menurut Mak Ani harganya mahal. sepuluh biji harganya empat ribu (tapi ini harga di Bogor). Wah boleh juga kalau begitu menanam jengkol untuk dijual....

Tapi Mak Ani tidak menjual jengkolnya ke tengkulak, seperti yang banyak dilakukan oleh tetangga-tetangganya. Kebanyakan jengkol di sini dijual ijon, seperti juga hasil panenan kebun lainnya. Mak Ani membiarkan jengkolnya tua dan kemudian memanennya sendiri, lalu membawa jengkol-jengkol itu pulang. Di rumah jengkolnya dikubur. Dulu Mei, temanku, suka sekali makan jengkol, tapi dia paling suka jengkol yang sudah dikubur. Namanya sepi (tapi tidak bersinonim dengan sunyi atau senyap). Kata Mei sepi berwarna hijau dan rasanya lebih enak. aku tidak  bisa membayangkan bagaimana enaknya.

Kalau menurut Mak Ani tujuan mengubur jengkol itu bukan hanya untuk menjadikannnya lebih enak. Yang lebih penting, kalau sudah dikubur tiga malam, patinya akan keluar. Lalu jengkol itu akan aman dikonsumi, tidak bikin sakit pinggang.

Sebagai tamunya, kami juga dimasakkan jengkol. disemur. Mak Ani dan Mak Onah sibuk sekali mengolah semur jengkol. Nining membantu memarut kelapa. sedang aku sibuk memotret mereka. menyenangkan sekali suasana waktu memasak semur itu. Api menyala riang. kami bercerita macam-macam, bersahut-sahutan dalam bahasa Jawa, sunda, dan indonesia. aku duduk di lantai kayu rumah panggung, dengan kaki menjuntai ke tlundakan kayu yang besar sekali. sambil menikmati hangatnya api. setelah matang, baunya enak, sepanci... sepanci semur jengkol! untunglah ada banyak sayur lain, sehingga aku punya pilihan. meski kalau misalnya tidak adapun aku tetap bisa makan nasi dengan garam, atau bikin sambal saja.

Tapi ketika kami mau pulang, dibekali jengkol yang belum dikubur.  "kalau sudah dibawa naik mobil sudah sama dengan jengkol yang habis dikubur. tidak bikin sakit pinggang lagi"  aku takjub, meski setengah tidak percaya...


Tapi yang jelas aku melihat bahwa punya pekarangan dan kebun yang isinya bermacam-macam memang sangat bermanfaat. Mak Ani menjual sebagian jengkolnya, dan ia dapat uang 36.000. besoknya ia menjual kacang panjang, dapat uang lagi.... tidak banyak tapi bisa dipakai untuk membeli bahan-bahan makanan yang tidak dihasilkan sendiri. dan ternyata petani masih bisa hidup subsisten, asal punya tanah untuk digarap...

Ilir

Kipas bambu ini disebut ilir. Salah satu jenis benda pakai yang terbuat dari anyaman bambu. Sekarang lebih mudah dijumpai dipakai oleh para pedagang sate dan jagung bakar. Di desa saya ilir digunakan untuk mengipasi api di tungku kayu, agar menyala tanpa harus susah-susah meniup sampai kehabisan nafas dan beresiko tersedak abu dapur. Di sumedang, ternyata kipas ini dipakai untuk mendinginkan nasi yang baru diangkat. Nasi dibolak-balik menggunakan centong kayu sambil dikipas-kipas. Sedang untuk menyalakan api dipakai semprong yang adalah sepotong bambu yang cara menggunakannya dengan jalan ditiupkan ke arah api.

Kalau naik kereta api kadang juga bisa dijumpai kipas serupa dijual untuk mengurangi rasa gerah, yang dijual di kereta untuk tujuan ini biasanya ukurannya lebih kecil dan bambunya dicat warna-warni.