Kata bulik, ini dibeli
waktu paklik masih hidup. Harganya Rp. 5000,00. Seingat saya paklik meninggal
tahun 2004 (atau 2005 ya?), sekarang ini tahun 2012, yang jelas umur cikrak itu sampai sekarang
sudah sekitar 8 tahun, bisa jadi lebih. Kini saya paham, kenapa Pak Tajam,
pembuatnya, tidak bisa kaya. Bagaimana mungkin? Ia menjual barang seharga Rp. 5000,00
dan setelah 8 tahun berlalu barang tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan
berakhir riwayatnya. Sepertinya cikrak itu masih bisa dipakai sampai 5 tahun
lagi.
blog ini ditulis berdua, oleh nining dan nisa, setelah melihat begitu kompleksnya percakapan kami
Thursday, 6 June 2013
cikrak
pantai
Sunday, 13 May 2012
Bagaimana Mengolah Rebung
Perkenalkan, bobo, dia adalah nama olahan rebung, bukan nama
majalah anak-anak. Seperti yang sudah
kita tahu, rebung merupakan salah satu jenis makanan dari tumbuhan. Tunas bambu
ini yang ketika tuanya bisa kita gunakan untuk bahan bangunan, begitu lembut dan enak disayur. Di berbagai
tempat rebung diolah menjadi macam-macam makanan. Dari yang hanya berbentuk
sayur lodeh saja sampai yang dijadikan isi lumpia untuk kudapan teman minum
teh. Dan karena rebung adalah makanan musiman, orang-orang kemudian menemukan
cara untuk tetap bisa memakan rebung meski sedang musim kemarau. Bukan
dikalengkan. Kalau dikalengkan itu adalah teknologi jaman ini. Di mana sampai
bibit bayi pun dikalengkan.
Ada dua macam olahan yang saya tahu. Yang kering dan yang
basah. Olahan rebung kering bisa disimpan lama. Cara mengeringkannya pun
relatif mudah. Ada dua cara yang saya tahu. Dua-duanya harus melalui proses
perajangan dulu. Rebung diiris tipis-tipis sebelum dikeringkan. Ada yang
mengeringkannya menggunakan panas matahari hingga potongan-potongan ini kering
benar sehingga aman untuk disimpan lama. Namun di beberapa tempat yang curah
hujannya sangat tinggi, ini hal sulit. Apalagi rebung tumbuh di musim hujan,
jadi alih-alih menggantungkan sinar matahari, mereka menggunakan cara yang
lebih mudah diintervensi. Memanggangnya di atas api. Caranya : potongan rebung
ditusuk dengan bambu (seperti sate, tapi tusuknya lebih panjang) lalu di taruh
di atas tungku kayu tempat memasak (agak tinggi jadi tidak terbakar dan tidak
mengganggu proses memasak, tepatnya diasapi). Karena terpanggang tiap hari
rebung akan mengering. Tetapi cara kedua ini hasilnya hitam dan sedikit
beraroma sangit. Untuk memasaknya keduanya harus direbus dulu agar empuk lagi.
airnya dibuang (terutama untuk yang dipanggang, proses ini sekaligus untuk
menghilangkan jelaganya) baru dibumbui.
Tapi bukan rebung dikeringkan itu sebenarnya yang ingin saya
ceritakan. Pengolahan semacam itu mudah ditemukan di banyak desa. Di desa saya
ada cara lain mengolah rebung. Yang satu ini hampir tidak saya temukan di
daerah lain. Nah begini caranya… (ini cara yang orisinil, yang biasa dilakukan
oleh simbah-simbah jaman dulu)
Rebung segar diambil pangkalnya (bukan bagian yang
berlapis-lapis dan berongga). Lalu dicuci bersih. Setelah itu diiris
tipis-tipis. Siapkan wadah untuk menyimpannya. Biasanya digunakan tumbu (wadah
bambu yang biasa digunakan untuk tempat nasi, tetapi yang paling ideal adalah
wadah yang berkaki) letakkan daun pisang melingkar di tepi bagian dalamnya tapi
di bagian bawah jangan dialasi. Lalu masukkan irisan rebung ke dalamnya.
Setelah selesai tutup rapat bagian atasnya dengan daun. Di atasnya letakkan
pemberat,bisa menggunakan batu atau ulekan,
yang terpenting tujuannya tercapai. tujuan memberi pemberat itu adalah
untuk memeras agar air dari rebung itu keluar. Setelah sekitar 2 hari cobalah
lihat apakah airnya sudah banyak yang keluar. Jika sudah biasanya rebung akan
menjadi lebih lemas, tidak renyah lagi. saat itu rebung dibongkar lalu dijemur
di panas matahari hingga terasa hangat. Kalau sudah hangat dibungkus daun lagi.
kembali pada proses seperti sebelumnya. Begitu diulang hingga rebung menjadi
lunak berwarna kecoklatan dan berbau sedap. Jika dilakukan dengan benar, rebung
tidak akan membusuk atau berulat. Inilah yang disebut bobo.
Bobo tidak bisa langsung dimakan. Harus dimasak dulu. Ada
dua cara masak yang saya sukai. Yang pertama digoreng dengan tepung dan
dibumbui. Jaman dulu simbah-simbah menggunakan tepung jagung untuk menggoreng.
Sekarang saya pakai tepung apa saja yang saya temukan di dapur. Bumbunya tidak
saya bocorkan, silahkan berimajinasi sendiri. Yang kedua dimasak dengan santan,
bumbunya antara lain ketumbar dan daun jeruk. Bumbu lainnya? Rahasiaaa….
Farmer atau peasant?
(ini edisi revisi dari tulisan sebelumnya yang
lebih panjang, bertele-tele, dan emosional)
Sekitar jam 9 seorang teman membalas ‘ya pasti farmer’ begitu katanya, dan apa gambar yang biasa menyertainya? Tanya saya lagi, jawabnya adalah orang membawa cangkul. Jawaban seorang teman yang lain seperti ini ‘ngetes pa py? wg farmer ae msk lali.[1] Emang ada kata yang lain?’. Teman ketiga menjawab agak ragu-ragu ‘farmer. Salah ya?’ sedang jawaban teman keempat yang baru menjawab SMS saya selepas maghrib adalah ‘farmer. Lha kenapa nis?’.
Lalu setelah beberapa bulan berlalu saya bertanya kepada teman yang lain, jawabannya ‘ngetes po ngece iki?’ tapi kemudian dia menjawab ‘aku pakai istilah yang standar, farmer’. Okay, artinya ada istilah yang tidak standar menurutmu… aku masih mengejar. Ia menjawab lagi, ya maksudnya bukan ada yang tidak standar,cuma umumnya kan orang-orang pake istilah itu. jadi ya istilah yang banyak dipakai itu tak anggap standar J (smiley-nya juga dari dia).
Ketika saya bertanya kenapa tidak pakai peasant, seorang teman mengatakan bisa saja, hanya konotasinya itu adalah petani yang melarat atau buruh tani. Saya tidak bertanya lebih lanjut. Hanya kemudian memintanya melakukan apa yang biasa diminta dosen-dosen kami dulu ‘consult your dictionary…’. Dan saya pun melakukan hal yang sama.
Pertama saya membuka Oxford advanced learner’s dictionary terbitan tahun 1989 untuk melihat arti kata farmer dan menemukan
Farmer (n) person who owns or manages a farm
Sedang Peasant dalam longman dictionary artinya adalah :
26 Februari 2012, pagi sekitar jam 7. Saya sedang
menghabiskan kopi, lalu tiba-tiba terpikir sesuatu yang memang ingin saya
kerjakan sejak beberapa hari sebelumnya. Sebuah keisengan minggu pagi (yang
meskipun bagi saya tidak ada bedanya
hari Minggu atau hari yang lain). Maka
saya kirimkan SMS ke beberapa teman kuliah dulu yang sekarang berprofesi
sebagai guru bahasa inggris. SMS-nya berbunyi begini ‘kata apa yang kau ajarkan
kepada murid-muridmu untuk menyebut petani dalam bahasa inggris?’
Sekitar jam 9 seorang teman membalas ‘ya pasti farmer’ begitu katanya, dan apa gambar yang biasa menyertainya? Tanya saya lagi, jawabnya adalah orang membawa cangkul. Jawaban seorang teman yang lain seperti ini ‘ngetes pa py? wg farmer ae msk lali.[1] Emang ada kata yang lain?’. Teman ketiga menjawab agak ragu-ragu ‘farmer. Salah ya?’ sedang jawaban teman keempat yang baru menjawab SMS saya selepas maghrib adalah ‘farmer. Lha kenapa nis?’.
Lalu setelah beberapa bulan berlalu saya bertanya kepada teman yang lain, jawabannya ‘ngetes po ngece iki?’ tapi kemudian dia menjawab ‘aku pakai istilah yang standar, farmer’. Okay, artinya ada istilah yang tidak standar menurutmu… aku masih mengejar. Ia menjawab lagi, ya maksudnya bukan ada yang tidak standar,cuma umumnya kan orang-orang pake istilah itu. jadi ya istilah yang banyak dipakai itu tak anggap standar J (smiley-nya juga dari dia).
Ketika saya bertanya kenapa tidak pakai peasant, seorang teman mengatakan bisa saja, hanya konotasinya itu adalah petani yang melarat atau buruh tani. Saya tidak bertanya lebih lanjut. Hanya kemudian memintanya melakukan apa yang biasa diminta dosen-dosen kami dulu ‘consult your dictionary…’. Dan saya pun melakukan hal yang sama.
Pertama saya membuka Oxford advanced learner’s dictionary terbitan tahun 1989 untuk melihat arti kata farmer dan menemukan
Farmer (n) person who owns or manages a farm
Sedangkan farm itu sendiri adalah dalam kamus itu diartikan
sebagai berikut :
(n) 1 area of land, and the buildings on it, used for growing
crops or raising animal 2 farmhouse and the buildings near it 3 place where
certain fish or animals are raised
Farm (v) grow crops or rear animals
Berikutnya saya memeriksa Longman dictionary untuk melihat
arti kedua kata itu
farm1 /fArm/ n. [C] an area of land
used for raising
animals or growing crops: farm
animals | I grew up on a
farm. | a dairy/hog/cattle
etc. farm [ORIGIN:
1300—1400 Old French ferme
“rent, lease,”
from Latin firmus
“firm, fixed”]
farm2 v. [I,T] to use land for
raising animals or
growing crops: Our
family has farmed here for years.
farm·er /'fArmø/ n. [C] someone who
owns or
manages a farm
lalu apa bedanya dengan peasant? Oxford advanced learner’s dictionary
mengartikan sebagai berikut :
Peasant (n) 1 (in the rural areas
of some countries) farmer owning or renting a (usu small) piece of land which
he cultivates himself 2 (formerly)poor agricultural worker 3 (infml derog)
person with rough unrefined manners
Sedang Peasant dalam longman dictionary artinya adalah :
peas·ant /'pEz@nt/ n. [C] a poor farmer who
owns or rents a small amount of land, either in past
times
or in poor countries
sebenarnya farmer juga, hanya ada adjektif di depannya
‘poor’, dan ada beberapa kata kunci di situ : small piece of land, poor, cultivates himself, dan rent.
Seorang teman kemudian bertanya ‘ada istilah lain?’ Lalu
saya menawarkan peasant, apalagi kalau yang diceritakan adalah petani di
Indonesia,dan apalagi kalau gambarnya petani membawa cangkul. Dia bilang, benar
juga ya petani kita kan kebanyakan tidak punya farm….
Bagi kita yang hidup di Indonesia, tentunya farm dan farmer
bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan sebagian besar petani
kita. Masyarakat petani kita yang menghuni desa-desa yang tersebar di seluruh
negeri yang katanya agraris ini sebagian besar hanya memiliki lahan kurang dari
¼ hektar. saya tidak mengada-ada atau
melebih-lebihkan. Gunawan Wiradi dan Dianto Bachriadi dalam Enam Dekade
Ketimpangan, Masalah Penguasaan Tanah di Indonesia (September 2011)
membandingkan hasil 5 sensus pertanian, tahun 1963, 1973, 1983, 1993, dan 2003.
Dari data tersebut jumlah absolute landless hanya menurun sekali pada periode 1973-1983,
selebihnya jumlahnya meningkat terus. Sementara jumlah rumah tangga pertanian
terus meningkat di tiap periodenya. Dalam data sensus luas lahan pertanian baik
sawah maupun ladang di jawa dan di luar jawa mengalami peningkatan, namun jika
melihat tingkat penguasaan lahan oleh petani nampak penurunannya. Sementara
jumlah luas perkebunan besar semakin meningkat utamanya di luar jawa. Itu adalah realitas kehidupan kita.
Sebagai sebuah awalan untuk memperkenalkan realitas hidup kita
kepada generasi penerus bangsa, saya berpendapat bahwa kepada mereka haruslah
diperkenalkan kata ‘peasant’ dan bukan kata farmer. Karena dengan mengenal kata
peasant itu maka yang tergambar di dalamnya adalah kehidupan senyatanya dari
bagian besar rakyat di negeri ini. Karena lebih dari sebuah kata, peasant
adalah sebuah konsep. Menyelaminya orang akan melihat ketidak adilan,
ketimpangan, ketertindasan, hilangnya akses atas sumberdaya, yang selama ini diromantisir dalam gambar
seorang petani sederhana mengenakan caping dan memikul cangkul. Agar pelajaran
sekolah tidak menjadi fiksi belaka.
Friday, 10 February 2012
the real princess
Hans Christian Andersen, pendongeng itu, bercerita tentang seorang pangeran yang sedang mencari istri. Bukan sembarang perempuan yang ia cari, ia mencari seorang putri, dan yang lebih khusus lagi, seorang putri sejati. Ia telah pergi berkeliling-keliling mencari putri semacam itu, tidak berhasil. Entahlah berapa lama dan berapa jauh ia mencari. Patut diingat bahwa ia seorang pangeran. Tentu saja ia punya banyak keleluasaan, waktu, uang, dan mungkin juga tanpa harus mengeluarkan uang, karena ia berkuasa. Tentu saja itu tidak mustahil, bahkan pangeran masa kini pun, semisal anak presiden juga memiliki privilege semacam itu. Meski tidak jelas apa pekerjaannya ia toh tetap hidup mewah dan berbeda dengan para penganggur lain.
Setelah gagal mencari, suatu malam putri itu datang sendiri mengetuk pintu istana ayah sang pangeran. Yang anehnya sangat mudah diakses, seperti pintu istana itu berada sangat dekat dengan jalan. Mungkinkah raja tidak punya tanah cukup luas yang memungkinkan dia memiliki halaman? Dan di mana gerangan para prajurit yang biasa diceritakan selalu siap siaga berjaga dan tidak akan membolehkan siapa pun sembarangan masuk? Tapi nyatanya begitulah ceritanya. Dan malam itu begitu gelap gulita, dan lagi hujan lebat turun disertai badai mengamuk. putri yang mengetuk pintu itu basah kuyup dan kedinginan. Nampaknya dia seorang putri yang bandel karena tidak jelas juga diceritakan apa yang dia lakukan di malam berhujan badai begitu, dan darimana dia berasal. Ia sungguh-sungguh menentang stereotype seorang putri.Tapi tetap saja ia memperkenalkan dirinya sebagai putri sejati itu.
Ratulah yang punya gagasan untuk mengetesnya. Ia percaya putri sejati mestilah sangat lembut dan perasa. Dalam cerita itupun tidak dijelaskan apakah pengetahuan ini juga pernah disampaikan kepada pangeran sehingga memudahkan pangeran untuk mengetahui apakah putri-putri yang ditemuinya putri sejati atau bukan. Yang jelas ratu kemudian menaruh biji-biji kacang di bawah kasur, tiga butir saja bukan sekarung, lalu menumpukinya dengan dua puluh kasur di atasnya. Di atas ke dua puluh kasur itu ditumpuknya dua puluh kasur bulu yang lembut. Oh alangkah banyak persediaan kasur mereka….
Tumpukan kasur itu pastilah sangat tinggi, bayangkan empat puluh kasur …. Jika masing-masing kasur tebalnya 20 cm –karena sepertinya tidak masuk akal kasur raja tipis- maka empat puluh kasur tingginya 800 cm, jika dikonversikan ke meter jadi 8 meter. Apakah untuk keperluan ini ratu meminta pelayannya menjebol langit-langit kamar? Atau memang kamar-kamar mereka setinggi itu? Juga tetap menjadi misteri. Putri itu pun harus naik ke pembaringannya dengan menggunakan tangga, tidak ada cara lain bukan? Tangga itupun mestilah sangat panjang. Tapi karena mereka adalah keluarga kerajaan kurasa sangat mungkin mereka memiliki kemewahan untuk memiliki tangga yang panjang sekali. Bahkan yang panjangnya seperti rel kereta api!
Paginya ketika ratu bertanya nyenyakkah tidur sang putri semalam? Putri itu ternyata sama sekali tidak dapat memejamkan mata semalaman. Sang ratu menyimpulkan, pastilah kacang-kacang itu yang menyebabkannya. Dan itu pastilah putri sejati, karena dia dapat merasakan adanya tiga butir kacang di bawah empat puluh kasur. Pangeran pun menikahinya, karena merasa menemukan putri sejati. Tetapi aku berpendapat lain, putri itu pasti tidak bisa tidur karena takut jatuh. Bagaimana tidak? Dia tidur di ketinggian 8 meter, belum ditambah dengan tingginya kaki-kaki ranjang. Seandainya putri itu takut ketinggian, dia pasti sudah mati kaku…..
(ini dongeng yang diceritakan hans christian Andersen itu…)
There was once a Prince who wished to marry a Princess; but then she must be a real Princess. He travelled all
over the world in hopes of finding such a lady; but there was always something wrong. Princesses he found in plenty; but whether they were real Princesses it was impossible for him to decide, for now one thing, now another, seemed to him not quite right about the ladies. At last he returned to his palace quite cast down, because he wished so much to have a real Princess for his wife.
One evening a fearful tempest arose, it thundered and lightened, and the rain poured down from the sky in torrents:
besides, it was as dark as pitch. All at once there was heard a violent knocking at the door, and the old King, the
Prince’s father, went out himself to open it. It was a Princess who was standing outside the door.
What with the rain and the wind, she was in a sad condition; the water trickled down from her hair, and her clothes
clung to her body. She said she was a real Princess.
‘Ah! we shall soon see that!’ thought the old Queenmother; however, she said not a word of what she was going
to do; but went quietly into the bedroom, took all the bedclothes off the bed, and put three little peas on the bedstead.
She then laid twenty mattresses one upon another over the three peas, and put twenty feather beds over the mattresses. Upon this bed the Princess was to pass the night. The next morning she was asked how she had slept. ‘Oh, very badly indeed!’ she replied. ‘I have scarcely closed my eyes the whole night through. I do not know what was in my bed, but I had something hard under me, and am all over black and blue. It has hurt me so much!’
Now it was plain that the lady must be a real Princess, since she had been able to feel the three little peas through
the twenty mattresses and twenty feather beds. None but a real Princess could have had such a delicate sense of feeling.
The Prince accordingly made her his wife; being now convinced that he had found a real Princess. The three peas
were however put into the cabinet of curiosities, where they are still to be seen, provided they are not lost.
Wasn’t this a lady of real delicacy?
Subscribe to:
Posts (Atom)
